5 Kebiasaan Investasi Orang Tua yang Tidak Disadari Anak Muda

  • 3 min read
  • Feb 14, 2020
Investasi

Di masa sulit orang tua kita tetap berusaha untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi langit. Bahkan mereka akan melakukan apapun hingga pinjam dana kepada tetangga asalkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak.

Selain itu, banyak orang tua yang secara tidak disadari justru berinvestasi dengan beragam cara. Meski masih bersifat tradisional, tetapi cukup efektif dan dapat diandalkan dikala membutuhkan dana terutama untuk biaya pendidikan ataupun dana darurat.

Nah, berikut ini adalah beberapa kebiasaan orang tua orang tua zaman dulu yang bisa dikategorikan sebagai salah satu cara berinvestasi pada saat itu.

  1. Menanam Pohon Produktif

Indonesia sejak dulu memang dikenal dengan tanaman palawijanya. Bahkan, Indonesia menjadi negara yang menghasilkan cengkeh terbesar dibandingkan dengan negara lainnya.

Kebiasaan inilah yang hingga kini dilestarikan dengan cara menanam pohon produktif. Pohon produktif adalah pohon-pohon yang menghasilkan buah. Cara ini masih cukup efektif lho dijadikan sebagai salah satu jenis investasi. Misalnya dengan menanam beberapa pohon buah seperti durian, alpukat, mangga dan sebagainya.

Namun, ada juga pohon lain yang kayunya dibutuhkan seperti jati mas yang bisa dipanen dalam waktu yang relatif lebih singkat. Selain itu yang juga saat ini diperlukan adalah pohon aren karena permintaan gula aren yang tinggi di tengah tumbuhnya berbagai jenis minuman kopi dan boba di tanah air.

  1. Beternak

Kebiasaan beternak semula merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri. Namun, lambat laun justru menjadi ide bisnis yang menjanjikan meskipun dikelola secara kecil-kecilan.

Beberapa orang tua terkadang menggabungkan hobinya beternak ayam kampung atau ayam pejantan yang nilainya bisa lebih tinggi dipasaran. Tetapi, ada juga yang sengaja beternak ayam petelur sehingga hasilnya bisa lebih banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

  1. Berkebun

Orang tua zaman dulu memang selalu lekat dengan alam. Bahkan tidak pernah membiarkan sejengkal tanah di rumah dibiarkan kosong. Ada saja tanaman yang dirawat sehingga setiap pagi dan sore selalu ada kesibukan dengan merawat tanaman.

Tanaman-tanaman yang dirawat kadang-kadang malah jadi ide bisnis sederhana yang justru mendatangkan pundi-pundi rupiah secara tidak terduga. Mulai dari coba-coba dan menjalankan hobi, justru langkah berkebun di pekarangan sendiri bisa membawa manfaat sekaligus keuntungan secara finansial.

  1. Membeli Tanah

Harga tanah pada zaman dulu mungkin memang mahal tetapi tidak seperti harga saat ini. Tidak heran jika kita lihat rumah orang tua zaman dulu biasanya punya halaman yang luas baik di depan maupun di belakang rumah.

Salah satu cara berinvestasi yang dicontohkan orang tua zaman dulu adalah membeli tanah meskipun terkadang hal tersebut dilakukan untuk membantu orang yang memang kesulitan keuangan.

Cara ini memang cukup efektif dan masih relevan hingga saat ini. Hanya saja, perlu diperhatikan masalah legalitasnya jangan sampai membeli tanah sengketa sehingga malah berujung rugi.

  1. Membeli Emas

Jurus investasi yang satu ini memangĀ  menjadi andalan dalam melawan inflasi. Emas memang menjadi salah satu cara investasi lawas yang masih tetap dijadikan pilihan hingga kini. Emas dianggap lebih mudah dicairkan dibandingkan dengan jenis investasi lainnya meskipun tidak memberikan profit yang lebih tinggi.

Nah, beberapa contoh investasi yang dilakukan orang tua tersebut pada dasarnya masih bisa dijalankan dan berpotensi mendatangkan keuntungan lebih banyak. Ada banyak anak muda yang kini kembali beternak, bertani, berkebun dengan cara yang lebih cerdas untuk memenuhi kebutuhan pasar yang makin terdidik dengan kebutuhan yang berbeda.

Bahkan ada yang tidak sungkan pinjam dana dari beberapa lembaga keuangan demi membangun bisnis yang bisa membantu orang hidup lebih sehat. Berbicara soal pinjaman, kamu juga bisa memanfaatkan layanan pinjaman online dari fintech tepercaya seperti Kredivo.

Kredivo sudah terdaftar secara resmi di OJK dengan nama PT FinAccel Digital Indonesia dengan nomor registrasi S-236 / NB.213 / 2018. Dengan begitu operasionalnya pun tetap dibawah pengawasan langsung dari OJK.

Kredivo memberikan bunga sebesar 2.95 persen dengan pilihan tenor mulai dari 30 hari, 3 dan 6 bulan. Malah untuk belanja dengan pembayaran kredit digital seperti Kredivo, tenor bisa lebih panjang hingga 12 bulan.

Kredivo bukan fintech biasa. Karena Kredivo dapat juga digunakan layaknya seperti kartu kredit digital untuk berbelanja di beberapa marketplace terkemuka seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Blibli, dan sebagainya.

Apalagi saat ini hampir semua kebutuhan finansial bisa didapatkan lewat aplikasi Kredivo seperti pembelian token listrik, pulsa hp, pembelian tiket pesawat, dan pembayaran berbagai tagihan dalam satu aplikasi.

Nah, jika tertarik dengan kemudahan yang diberikan Kredivo, unduh aplikasinya lewat Google Play Store dan App Store, kemudian daftarkan diri kamu secara mudah, bisa online kapan saja.