Film “Tanda Tanya” Toleransi Beragama

  • 2 min read
  • Mar 25, 2021
Film “Tanda Tanya” Toleransi Beragama

Pancasila adalah dasar serta landasan ideologi Bangsa Indonesia. Hari lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 dan terdapat lima sila yang dirumuskan dalam pidato Soekarno. Kelima sila tersebut yaitu, Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tentunya kelima sila tersebut mempunyai nilai nilai pancasila yang harus ditanamkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perlu adanya media untuk pemberitahuan dan ajaran kepada masyarakat agar nilai nilai pancasila tersebut dapat diterapkan di kehidupan sehari-sehari, salah satu caranya dengan media film. Film adalah media komunikasi massa yang didalamnya terdapat komponen-komponen komunikasi massa, di mana adegan atau frame dianggap sebagai sumber informasi. Salah satu film yang memberikan informasi mengenai nilai nilai pancasila adalah “Tanda Tanya”.

Film “Tanda Tanya” adalah film Indonesia yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan memiliki tema pluralism agama di Indonesia yang sering terjadi konflik antar keyakinan beragama, dan dituangkan ke dalam sebuah alur cerita yang berkisar pada interaksi tiga keluarga yang memilik agama yang berbeda, keluarga Tionghoa-Indonesia beragama Buddha, 7 pasangan beragama Islam dan seorang konver beragama Katolik. Setelah menjalani banyak kesulitan dan kematian beberapa anggota keluarga dalam kekerasan agama mampu untuk hidup berdamai. Film ini memiliki fokus pada hubungan antar agama di Indonesia, sebuah negara di mana konflik agama menjadi hal yang umum, serta terdapat sejarah panjang kekerasan dan diskriminasi terhadap Tionghoa Indonesia.

Sinopsis film “Tanda Tanya” adalah sebagai berikut, terdapat tiga keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Pertama, keluarga Tan Kat Sun memiliki restoran masakan Cina yang tidak halal. Kedua, keluarga Soleh, dengan masalah Soleh sebagai kepala keluarga yang tidak bekerja namun memiliki istri yang cantik dan solehah. Terakhir, keluarga Rika, seorang janda dengan seorang anak, yang berhubungan dengan pemuda yang belum pernah menikah. Dalam cerita tersebut, Rika juga bersahabat dengan Surya. Surya ialah sosok pemuda yang bercita-cita menjadi aktor hebat tapi bernasib masih mendapat kesempatan peran-peran kecil. Bahkan karena tidak punya uang, ia sampai menginap di masjid. Konflik dimulai ketika pada usia 70-an, Sun jatuh sakit, dan rumah makan diambil alih oleh Hendra, yang memutuskan akan melayani secara eksklusif masakan dari daging babi dan mengasingkan pelanggan Muslimnya. Menuk yang mengalami masalah saat Soleh mengatakan bahwa ia berencana untuk menceraikannya. Kemudian, Rika yang merasa stres karena ia telah dirawat oleh tetangganya dan keluarganya yang telah berpindah agama ke Katolik dari Islam. Selain itu, anaknya yang bernama Abi juga menghadapi pengucilan Kisah yang berputar pada permasalahan masing-masing keluarga dan perorangan tadi, sesuai dengan masalah sosial masyarakat yang sering ditemukan di Indonesia,  yaitu kebencian antar etnis atau agama. Selain itu, radikalisme agama dalam bentuk peristiwa penusukan pastor dan bom di gereja, perusakan restoran, juga usaha-usaha untuk menengahinya.

Hanung sebagai sutradara film “Tanda Tanya” ingin menyampaikan pesan moral utama yaitu tentang kerukunan antar umat beragama. Perihal lain yang ingin ditanamkan Hanung adalah mengenai ajaran pluralisme agama yang mana mengajarkan untuk meyakini bahwa semua agama yang ada adalah sama. Banyak hal yang berhubungan dengan kehidupan beragama ditampilkan di film ini, seperti pelajaran tentang toleransi antar umat beragama, kerukunan antar umat beragama serta terdapat pesan tentang bagaimana kita menghargai perbedaan dan pilihan orang lain dan bukan hanya sebatas toleransi. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa film “Tanya Tanya” memiliki salah satu nilai pancasila.