Demokrasiana Institute: Kampanye Pilpres Utamakan Adu Program, Bukan Diksi Tak Berkualitas

151

JAKARTA, TELEGRAM – Saat ini Indonesia masih berada dalam suasana kampanye pemilihan presiden, dalam konteks kampanye semua tim sukses pasti menggunakan beragam cara demi menarik simpati pemilih agar memilih jagoan mereka, secara ideal kampanye adalah bagian dari pendidikan politik, sejatinya masyarakat bisa mendapatkan pelajaran politik yang mencerdaskan selama masa kampanye.

“Kampanye sebenarnya merupakan pendidikan politik, outputnya seharusnya masyarakat bisa lebih cerdas dalam menyikapi dinamika politik, namun hal itu sangat dipengaruhi konten kampanye dari setiap pasangan calon Pilpres” jelas Zaenal Abidin Riam, Koordinator Presidium Demokrasiana Institute, Kamis (27/12).

Agar tercipta kampanye yang mencerdaskan, maka yang diutamakan semestinya adalah adu program.

“Wajib bagi setiap pasangan Capres Cawapres konsisten mensosialisasikan secara masif programnya dalam semua aspek kehidupan kepada masyarakat khususnya bidang ekonomi, politik, kebudayaan, lingkungan dan sosial. Ini penting agar masyarakat paham apa yang akan dilakukan calon bila kelak terpilih, dari sini pula masyarakat berpeluang menjatuhkan pilihan berdasarkan pertimbangan rasional dan cerdas” urai Enal.

Cara kampanye dengan menggunakan diksi tak berkualitas harus dihentikan, termasuk menyerang personal lawan.

“Belakangan ini ruang sosial kita gaduh karena yang diributkan adalah diksi tak berkualitas, misalnya soal tampang dan urusan privat keluarga, ini hanya menghabiskan energi, masyarakat tidak mendapatkan sedikitpun pelajaran dari kegaduhan seperti ini, jadi harus dihentikan, kalau mau gaduh ya seharusnya gaduhnya adalah gaduh program” tutupnya.[ham]