Negara Hebat Tanpa Hutang,Why Not?

34

Oleh : Mira Susanti
Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi

Sebutan bahwa “negara saja berhutang apalagi rakyatnya”. Seolah berhutang merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh siapapun bahkan dirinya tidak bisa hidup tanpa hutang. Maka disinilah cikal bakal lahirnya para rentenir baik tingkat desa maupun tingkat internasional. Mereka para pemilik modal siap sedia meminjamkan uangnya,tanpa diminta pun ia dengan sendirinya menawarkan kepada mangsanya. Tentu saja pinjaman tersebut tidak gratis atau suka rela saja. Namun ada harga lebih yang mesti dibayar alias bunganya bagi para penghutang .

Baik itu dilakukan secara individu maupun negara. Wajar saja akhirnya pihak pemberi hutang lebih berkuasa dan leluasa untuk menekan pihak yang berhutang. Dengan cara penetapan bunga atau denda dari keterlambatan pembayaran hutang. Sehingga mereka memperoleh keuntungan yang lebih besar dalam waktu yang singkat.

Sebagaimana yang dialami oleh bangsa Indonesia yang masih mengalami defisit dalam beberapa tahun terakhir. Penerimaan negara yang sebesar Rp 1.750 triliun jauh lebih kecil ketimbang belanja pemerintah yang sebesar Rp 2.020 triliun.Sri Mulyani mengatakan, dengan jumlah rasio utang Indonesia saat ini sebesar 27% dari Gross Domestic Product (GDP) yang sekitar Rp 13.000 triliun, maka setiap masyarakat di Indonesia memiliki utang sebesar US$ 997 per kepala (Rp 13 juta). (DetikFinance)

Ini merupakan dampak dari pengelolaan keuangan negara yang tidak berjalan dengan baik. Karena apa? Karena pembiayaan belanja negara sebagian besar di danai dari hutang luar negeri. Otomatis dengan bunga yang cukup besar,sehingga wajar akhirnya negara ini kewalahan dalam membayar pokok pinjamannya karena uang yang ada hanya cukup membayar bunganya saja. Maka pemerintahan terus mencari pinjaman hutang lagi demi membayar hutang.

Sungguh ini sangat ironis sekali, ketika kita melihat sumber pendapatan negara sebagian besar dari pajak dan hutang. Sehingga apapun saat ini pemerintah menarik pajak,sampai-sampai mahasiswapun juga ikut di pajak. Seolah tidak ada solusi lain yang bisa diambil oleh negara kecuali dengan pajak (Pemalakan atas uang rakyat) tanpa melihat miskin atau kaya. Ketika kondisi negara dalam kesulitan membayar bunga serta pokok hutangnya. Maka disini pemilik modal akhirnya menekan bangsa ini dengan berbagai kebijakan yang menguntungkan mereka. Politik balas budi menjadi cara ampuh bagi mereka untuk menguasai berbagai sektor negara.

Sehingga menjadikan bangsa ini tunduk dibawah bayang- bayang pemilik modal. Atas nama bantuan dan investasi yang mereka tawarkan. Lalu siapakah yang di untungkan? apakah rakyat lebih sejahtera atau justru semakin menderita?. Sudahlah hutang melimpah ruah, pejabatnya hidup bermegah- megahan dengan rupiah alias korupsi. Hal ini tercatat mayoritas uang negara dikorupsi oleh oknum berdasi tanpa basa -basi..

Satu hal yang harus disadari oleh bangsa ini sampai kapan kita terus hidup dari belas kasihan orang yang tidak mengasihi kita? Yang ada justru menjajah kita ,apakah negeri kita terlalu miskin sehingga tidak ada pilihan lain kecuali meningkatkan jumlah hutang? Apakah kita akan menunggu sadar ketika negara ini tergadai semuanya sementara kita lalai? Tentu tidak , memang tak bisa dipungkiri bahwa sistem ekonomi kapitalis yang merajai saat ini, menjadikan sesuatubyang diharamkan menjadi halal selama ada fulus.

Oleh sebab itu dibutuhkan kekuatan yang mampu menghapus benteng kelemahan bangsa ini sampai ke akarnya. Yaitu mencampakkan sistem ekonomi ribawi yang menjadi alat penjajah diseluruh negeri muslim. Serta mengembalikan seluruh hak pengelolaan sumber daya alam berada dibawah kendali negara, dikelola untuk kemaslahatan rakyat. Karena hasil yang didapat jauh lebih besar dibandingkan hutang itu sendiri. Sehingga Negara menjadi lebih kuat dan terhomat tanpa hutang ribawi akan mudah di raih. Keberkahan hidup pun kian mewarnai negeri.