Target Produksi Gas Tak Tercapai oleh KESDM, Industri di Jawa Timur Terancam Pasokannya

111

Oleh: Yusri Usman
Direktur Eksekutif CERI

Sungguh malang nasib Pertamina saat ini, setelah didera kerugian puluhan triliun akibat penugasan Pemerintah karena tidak boleh menyesuaikan harga keekonomian BBM, sekarang dituding lagi tak punya kemampuan mengelola lapangan gas dan minyak berumur tua , karena tidak bisa mencapai target produksi gas sesuai tercantum dalam APBN menjelang akhir tahun 2018.

Pasalnya produksi group Pertamina yakni blok Mahakam , WMO ( West Madura Ofshore ) , Sanga Sanga dan ONWJ ( Offshore North West Java ) masih belum mencapai target , rerata masih sekitar 85 % dari target APBN, dikatakan berbanding terbalik dengan kontraktor asing BP Berau bisa mencapai 107, 6 % dari target , meskipun Direktur Hulu Pertamina skrng dijabat mantan Head of Country BP Indonesia.

Padahal lapangan migas Pertamina itu sudah berumur lebih 50 tahun , secara alamiah akan turun produksinya , kecuali dilakukan pengeboran sumur sumur pengembangan untuk meminimalisasi proses penurunannya atau dilakukan metoda EOR “Enhanced Oil Recovery”, namun pilihan semua metoda tergantung perhitungan keekonomian, analisa resiko bisnis dan kocek Pertamina dan disetujui RKAP oleh Meneg BUMN.

Tudingan tersebut dilontarkan oleh pejabat humas SKKMigas dan disambut oleh Dirjen Migas Djoko Siswanto dan diamini Menteri ESDM Igantius Jonan diberbagai media dengan judul ” Produksi Pertamina Jeblok , ESDM ; Mundur Aja Kalau Tak Bisa ” dan ” Kalah Dengan Asing , Produksi Gas Pertamina Masih Rapor Merah ” , sehingga sikap pejabat migas tersebut dapat dikatakan ibarat ” memercik air didulang terpecik muka sendiri ” atau ” muka buruk cermin dibelah “.

Lucu dan anehnya lagi pernyataan itu dilontarkan tak lama berselang setelah awal November 2018 KESDM menyetujui pengelolaan blok minyak CPP Coastal Plain Pekanbaru ) 100 % kepada BUMD PT BSP yang rekam jejaknya buruk bersama Pertamina mengelola blok migas tersebut sejak thn 2002.

Harus dipahami bahwa Ditjen Migas KESDM dalam tata kelola migas selain sebagai regulator , bersama SKKMigas sekaligus sebagai Pembina dan Pengawas serta mengontrol setiap hari dan yang paling bertanggung jawab disektor hulu terhadap produksi migas nasional , baik untuk Pertamina dan KKKS lainnya.Karena POD ( Plan of Develoment ) setiap lapangan migas disetujui oleh Menteri ESDM setelah lolos verifikasi oleh SKKMigas dan Ditjen Migas.

Selain itu , ternyata dijajaran komisaris Pertamina terdapat Wakil Menteri ESDM Achandra Tahar dan Sekjen ESDM Ego Syahrial serta beberapa stafsus Menteri ESDM dan pejabat dari Ditjen Migas ada juga yang duduk sebagai komisaris di anak anak perusahaan Pertamina , tentu publikpun bertanya apa peran mereka selama ini didalam perusahaan tersebut ? , apa makan gaji buta alias ” Bakortiba “? .

Kemudian ada yg lebih aneh lagi di SKKMigas , terkesan Kahumasnya bertindak seperti Kepala SKKMigas , dan sebaliknya Kepala SKKMigas sering juga bertindak sebagai Kahumas , bahkan lebih sering melakukan survei survei dgn mengirim “kuesioner ” tentang korupsi ke masyarakat migas , bukan soal tata kelola migas.

Sikap tudingan pejabat ke Pertamina bisa dibaca publik sesungguhnya ada masalah besar di KESDM , sehingga tudingan itu hanya untuk menutupi kegagalan pejabat di KESDM sendiri.

Asal tau saja , saya punya bukti kuat saat ini sudah terjadi banyak industri di Jawa Timur sejak September 2018 mengalami kesulitan tambahan pasokan gas agar produknya bisa efisien bersaing dgn produk impor , padahal sejak tahun 2015 Presiden Jokowi sudah memerintahkan kepada KESDM bagaimana caranya harga gas kepada 7 industri bisa sekitar USD 6 per MMBTU , bahkan program sudah berulang kali dibahas di Menko Perekenomian dengan berbagai skenario tersebut masuk dalam paket kebijakan Ekonomi I tahun 2015 , faktanya hari ini harga gas untuk kalangan industri rata rata masih diatas USD 10 per MMBTU , cilakanya sekarang bukan soal harga , ternyata banyak industri di Jawa Timur minta tambahan kuota gas telah ditolak oleh PGN karena kekurangan pasokan dari lapangan gas , atau adanya alokasi gas ditangan traders yang bermodalkan kertas ? .