Hidup Bermakna dengan Kedudukan Tauhid

128
Pengunjukrasa mengikuti aksi bela tauhid di Mataram, NTB, Jumat (26/10/18). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/wsj.

Oleh: Minah, S.Pd.I
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Terkadang manusia belum bisa memilih jalan yang baik dalam hidupnya. Mereka hanya memilih jalan yang mulus untuk mencapai kebahagiaan. Mereka menganggap hidup ini harus instan, menginginkan jalan yang “mulus” tanpa resiko dan “alergi” untuk melewati jalan hidup yang penuh duri, walaupun Ia sadar bahwa jalan yang berduri itu yang akan membawanya pada kebahagiaan.

Tak jarang kita lihat masih banyak diantara kita yang menjalankan kehidupannya sesuai kemauannya, melakukan apapun tanpa melihat rambu-rambu yang ada, bahkan aturanpun kadang dilanggar, yang penting baginya mendapatkan kesenangan semata.

Dia tidak menyadari bahwa dalam hidup ini harus punya makna. Hidup akan bermakna jika kita mengetahui tujuan hidup kita didunia ini. Agar kita tidak salah dalam melangkah.

Disini kita harus tahu akan kedudukan Tauhid. Karena Ketaatan terbesar yang wajib kita laksanakan adalah tauhid; sebagaimana kemaksiatan terbesar yang mesti kita hindari adalah syirik.

Tauhid adalah tujuan diciptakannya makhluk, tujuan diutusnya seluruh para Rasul, tujuan diturunkannya kitab-kitab samawi, sekaligus juga merupakan pijakan pertama yang harus dilewati oleh orang yang berjalan menuju Rabbnya.

Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS. Adz-Dzariyat:56).

Juga firmanNya:

“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasulpun sebelummu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepadaKu.” (Al-Anbiya’: 25)

Demikian pula firmanNya:

“Alif laam Raa, (inilah) satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, serta dijelaskan (makna-maknanya) yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. Agar kalian jangan beribadah kecuali kepada Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira kepada kalian daripadaNya.” (Hud: 1-2)

Tujuan kita hidup itu semata-mata untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’aala. Allah Sang Pencipta manusia serta Pengatur manusia yang menetapkan bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepadaNya. Taat, tunduk dan patuh kepadaNya serta terikat dengan aturan agama yang disyariatkanNya, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Dengan itu semua kita tidak akan tersesat dalam hidup ini.

Kedudukan Tauhid itu begitu tinggi dan penting, sehingga kita tidak boleh menyepelekannya. Karena Ketaatan terbesar yang wajib kita laksanakan adalah tauhid; sebagaimana kemaksiatan terbesar yang mesti kita hindari adalah syirik.

Oleh karena itu, kita harus mampu memaknai kehidupan dengan kedudukan Tauhid, hidup kita bermakna dengan senantiasa beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala, tunduk dan taat kepada Allah, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Wallahua’alam.