Ada Apa Dengan Pak Kiai…?

122

Oleh: Tb Ardi Januar

Sejak ditetapkan menjadi cawapres Jokowi hingga saat ini, saya bisa dibilang tidak pernah mengomentari apalagi mengkritisi KH Ma’ruf Amin. Sebagai alumni pondok pesantren, saya sangat menghormati Beliau tidak hanya sebagai orang tua, tetapi juga sebagai ulama ahli fiqih (fuqoha).

Ketika Mahfud MD membeberkan manuver Pak Kiai dalam perburuan kursi cawapres yang terbilang kasar, saya tetap tidak tertarik untuk berkomentar. Bagaimanapun seorang Nahdliyin non struktural macam saya ini harus bisa menghormati Pak Kiai sebagai Rais Am PBNU kala itu.

Namun semakin hari saya merasa Pak Kiai lebih sering muncul sebagai sosok politisi ketimbang sebagai ulama. Dalam melontarkan pernyataan, Pak Kiai seringkali kurang bijak, bahkan cenderung nyinyir seperti kebanyakan politisi sekarang ini.

Figur yang saya harap dapat menurunkan tensi politik yang belakangan meninggi tidak saya temukan. Justru Pak Kiai malah ikut larut dan menyumbang saham kegaduhan. Demokrasi sejuk yang kita harapkan semakin jauh dari kenyataan. Hal ini bisa kita lihat dari pernyataan-pernyataan Pak Kiai kepada media massa.

Pak Kiai nyinyirin Prabowo yang tidak memilih ulama sebagai cawapres. Pak Kiai juga mendegradasi hasil ijtima ulama yang mendukung Prabowo Subianto. Saya cukup heran melihat tokoh sekelas Pak Kiai bisa melontarkan respons antagonis. Meski demikian, pernyataan sinis Beliau saya abaikan sebagai bentuk takzim (penghormatan) kepada beliau.

Seiring waktu berjalan, Pak Kiai kembali bikin saya terheran-heran. Kepada media massa dia bilang Mobil Esemka Oktober akan dipasarkan. Kenyataannya sampai hari ini Esemka masih berupa khayalan. Saya tak habis pikir, kenapa Pak Kiai bisa terjebak pada politik kebohongan. Entah siapa sosok yang tega memberi masukan.

Tak sampai di situ, Pak Kiai kembali membuat pernyataan kontroversional. Dia berkata hanya orang buta dan budek yang tak akui prestasi Jokowi. Pernyataan ini ternyata menyinggung perasaan kalangan disabilitas. Pak Kiai dinilai telah merendahkan salah satu golongan.

Pak Kiai dikecam banyak pihak dan dituntut minta maaf. Namun respons Pak Kiai yang diharapkan bisa berbuat arif justru di luar dugaan. Pak Kiai menolak meminta maaf. Padahal minta maaf itu gratis. Maaf adalah lem perekat yang bisa menyatukan sesuatu yang rusak. Aksi protes para penyandang disabilitas tidak dia hiraukan.

Bisa jadi, ada pihak yang bisiki Pak Kiai agar tidak meminta maaf, karena mungkin di dalam pertarungan politik, mengakui kesalahan sama dengan kekalahan. Namun justru sikap menolak untuk meminta maaf malah mencerminkan sikap yang tidak ksatria, tidak dewasa dan jauh dari kata bijaksana. Pak Kiai sekarang lebih kental karakter politisinya ketimbang sebagai rohaniawan.

Kita memang jangan salah tafsir dengan sosok Pak Kiai. Rekam jejak beliau bukanlah seorang ulama yang kini menjadi wakil presiden, melainkan seorang politisi senior era Orde Baru yang sempat fakum karena fokus menjadi ulama, kemudian terjun kembali sebagai politisi.

Sebagaimana diketahui, Pak Kiai sudah menjadi politisi dan anggota dewan sejak tahun 1971 hingga tahun 1999. Sederet jabatan di lembaga legislatif sudah dia rasakan. Karir politiknya dimulai dari PPP dan berujung di PKB. Bahkan saat di PKB, Pak Kiai sempat berselisih faham dan berseberangan dengan Gus Dur.

Sebagai seorang santri yang banyak kekurangan, saya harus tetap menghormati Pak Kiai karena dia guru. Tapi sebagai rakyat, kita semua juga berhak memuliakan beliau dengan cara tidak memilihnya. Jangan biarkan Pak Kiai menjadi tumbal politik kebohongan dan kita kembalikan kehadiran Pak Kiai di tengah umat.

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh…” (Al-A’raf 199).