Revolusi Ilmiah Dan Islam

188

Revolusi Ilmiah yang lahir dari sains dan pemikiran modern. Setiap masa mempunyai cara berpikir yang mempengaruhi pikiran manusia dalam menyelesaikan masalah-masalah mereka. Selama berabad-abad, cara berpikir manusia berdasarkan metafisika. Cara berpikir ini telah manjadi telah menjadi landasan ide-ide dan teori-teori sejak lama. Pertama kali dalam sejarah, sains modern menyingkirkan cara berpikir yang berdasarkan ini menggantinya dengan cara berpikir fisika. Setiap problema yang melibatkan agama dan pemikiran modern bersumber dari cara berpikir cara berpikir baru ini. Dahulukan, filsafat disebut sebagai induk ilmu pengetahuan. Posisi filsafat menjadi hilang dengan lahirnya sains modern. Sebab analisa sains secara teknis lebih sempurna, sedangkan filsafat tidak memilikinya. Atas dasar ini, sains modern dapat mengalahkan ilmu pengetahuan yang lain. Akibatnya lahirlah cara berpikir yang disebut positivisme, yaitu cara berpikir yang berdasarkan pancaindera.

Cara berpikir lama metafisika itu tidaklah menjauhkan jiwa dari langit dan dengan dasar itu memberikan interpretasi tentang gerakan manusia. Pemikiran modern ingin mempergunakan istilah kuantitatif untuk jiwa, sebagaimana dipergunakan juga untuk bidang-bidang yang lain. Dikatakan bahwa jiwa adalah bersifat kualitas temporer sebagai akibat dari interaksi materi baik secara fisik maupun secara kimiawi, persis seperti suara yang timbul sebagi akibat pergeseran dua cabang kayu. Cara berpikir yang menafsirkan fenomena metafisika dengan istilah fisika ini menempatkan agama sebagai suatu subjek penelitian. Metode ilmiah tidak dapat melihat adanya hubungan agama dengan langit. Akhirnya disimpulkan bahwa masyarakatlah sebenarnya yang menjadi sumber agama, sedangkan pada hakikatnya sumber agama itu adalah dari langit.

Perubahan yang terjadi pada theory of knowledge bukanlah perubahan biasa. Perubahan ini bahkan telah membukakan pintu kebenaran yang masih tertutup selama 200 tahun. Alam yang ditemukan oleh sains modern ini adalah alam yang maha hebat. Tetapi penafsiran ini berdasarkan deduksi dan tidak berhubungan dengan pengamatan fisik. Itulah sebabnya sains modern masih menolak menerima tafsiran ini sampai abad XIX. Dewasa ini, setelah mengakui metode deduksi, sains modern mengakui kebenaran tafsirnya. Sudah waktunya sekarang mengulangi apa yang pernah dikatakan Newton bahwa “Tangan Tuhan” berada di belakang hukum alam.

Sejumlah fakta-fakta alami seperti gerakan, kehidupan, keindahan dan abstrak, kebijaksanaan, keagungan, dan penginderaan yang menakjubkan, tidak ada tafsirannya kecuali mengakui bahwa semuanya ini adalah ciptaan Allah Yang Maha Hidup. Sebenarnya, setelah mengakui deduksi sebagai metode dalam pembuktian, sains modern seluruhnya adalah menjadi Ilmu Kalam (Teologi) milik Al Qur’an. Penemuan-penemuan sains modern telah membuktikan secara ilmiah kebenaran ‘aqidah yang dibentangkan oleh Al Qu’ran. Kekurangan satu-satunya yang kita hadapi dalam hal ini adalah kelemahan kita ummat Islam dalam mengkodifikasi penemuan-penemuan ilmiah sebagai bukti teologi (Ilmu Kalam) dari Al Qur’an.

Dalam Islam, tuduhan yang mengatakan bahwa “agama dan Syari’at selalu berubah”, memberi pengertian bahwa agama merupakan hasil faktor sosial. Sebagai diketahui, hasil faktor-faktor sosial selalu berubah terus dan bahkan selalu berkaitan dengan zamannya.
Semua penemuan-penemuan ilmiah ini berarti menampakkan mutiara-mutiara keagungan ilahi yang tersimpan di dalam alam. Dan hal ini membenarkan yang termuat dala Al Qur’an sejak dari 1300 lebih tahun yang lalu, dala Q.S. Fushilat ayat 53:

“Kami akan memperhatikan bukti kebesaran kami pada alam semesta dan diri mereka sehingga jelas bagi mereka akhirnya bahwa Al Qur’ an benar (dari Allah).”

Segi lain dari penemuan sains modern akhirnya membuktikan bahwa manusia sendiri tidak mampu menemukan hukum untuk mengaturan kehidupannya. Kini menjadi jelaslah bahwa kemampuan yang ada pada manusia hanya dapat menjelaskan sebagian kecil dari hakikat. Sedangkan sebagian yang terbesar dan tidak kita ketahui, justru lebih penting dari apa yang telah kita diketahui.

Sesuatu yang kita ketahui dari alam materi ini sangat penting artinya mengetahui masalah hukum manusia, karena manusia adalah mahluk yang rumit dari sepotong radium yang belum diketahui hukumnya. Bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa dengan usahanya manusia dapat sampai kepada hukum kehidupan.

Sains telah menyingkapkan bahwa wujud manusia jauh lebih rumit dari dugaan-dugaan orang sebelumnya. Pada hakikatnya, manusia mempunyai hubungan dengan alam keseluruhannya. Manusia dewasa ini adalah subjek dari berbagai cabang ilmu, seperti sitology, psikologi, ilmu ekonomi dan astronomi. Dengan kata lain, sebelum mengetahui hakikat manusia yang harus diketahui terlebih dahulu alam keseluruhan. Penelitian alamiah memberitahu kepada kita bahwa manusia mempunyai berbagai kelemahan dan keterbatasan yang menghalangi kita untuk melihat fakta secara keseluruhan.

Pada abad 20, studi mengenai hukum manusia dinamakan dengan geometri sosial. Ini berarti bahwa ahli-ahli hukum akan dapat menciptakan hukum permanen untuk manusia persis seperti menciptakan alat-alat teknik. Sayangnya, ahli-ahli hukum gagal untuk sampai kepada kriteria tertentu yang dapat cocok dengan hukum manusia. Ilmu hukum sekarang mengakui manusia tidak sanggup menciptakan hukum kehidupan. Terbatasnya kemampuan biologis dan otak manusia telah menghalangi kemungkinan secara pasti. Sarjana hukum terkenal Georgi White Baton mengakui bahwa cara satu-satunya untuk sampai kepada norma-norma yang disepakati adalah dengan meyakini Wahyu Ilahi sebagai hukum.

Semua filsafat hukum sosial yang popular pada abad 19 menganggap hukum sosial seperti hukum alam selalu ada dalam masyarakat. tugas kita hanya mengungkapkannya. Dengan kata lain, mereka mengatakan bahwa hukum sosial adala abadi seperti abadinya hukum mengenai uap dan listrik. Sayang sekali semua filsafat dan aliran ini gagal dalam mengungkapkan hukum bersifat fitrah ini. Pendapat mereka dari segi prinsip sudah benar, tetapi kesalahan mereka terletak pada penelitian terhadap sesuatu hakikat yang dilakukan bukan pada bidang yang sebenarnya.

Hukum kehidupan manusia adalah abadi seperti abadinya hukum-hukum fitrah dan biologis. Tempat yang tepat untuk mengetahui hukum ini adalah Wahyu Ilahi, bukan ilmu-ilmu kemanusian seperti kita kenal, karena ilmu-ilmu ini hanya memberikan data yang tidak lengkap tentang hakikat. Mengakui Wahyu Ilahi sebagai dasar hukum manusia berarti menyejajarkan hukum manusia dengan hukum fitrah. Dengan kata lain, hukum kehidupan dan hukum alam berasal dari satu sumber. Dengan demikian, hukum manusia menjadi hukum abadi.

Menurut hukum persenyawaan, air terjadi karena persenyawaan dua jenis gas tertentu berdasarkan hukum gravitasi, kemudian partikel-pertikel air itu akan berubah menjadi uap berdasarkan hukum dinamika panas; pada kedua hal itu tersebut air tetap air di setiap masa dan di segala tempat. Kalau hukum Allah itu tetap abadi pada alam materi, kenapa ia tidak abadi pula pada kehidupan manusia?

Dua jenis hukum yang berasal dari sumber yang sama tidak mungkin akan berbeda sifatnya. Sebenarnya mengakui Allah sebagai sumber hukum manusia, berarti pula dalam waktu yang sama menetapkan hukum seperti ini tidak dipengaruhi oleh batasan waktu dan tempat. Hukum alam adalah hukum abadi, meskipun setiap hari kita menyaksikan perubahan beransur-ansur volume bulan dan terbit serta terbenamnya matahari. Sekarang telah terbukti bahwa semua perubahan tersebut tidak lebih dari suatu tipuan terhadap mata kita yang mempunyai kemampuan yang terbatas. Sains modern sekarang ini telah mengungkapkan perubahan-perubahan yang lebih penting dari perubahan tersebut, tetapi tidak terdapat perbedaan pendapat tentang keabadian hukum alam.

Sumber: Dirangkum dalam buku “Syari’at Islam dan Tantangan Zaman, Waheeduddin Khan, diterjemahkan Rifyal Ka’bah, M.A, 1987”.

[Suparman]