Yusril IM, Partai Bulan Bintang, dan Kepentingan Bangsa

237

Oleh: Suparman, Mantan Ketua HMI-MPO Komisariat Eksakta IKIP Mataram 2012

Yusril Ihza Mahendra sedang melawan badai di Lautan dengan posisinya sebagai pengacara Jokowi – Ma’ruf Amin. Hanya orang yang cerdas berlayar bisa selamat dari badai tersebut.

Banyak yang menilai sikap Yusril merugikan internal Partai Bulan Bintang, karena disebabkan kelompok Islam lebih banyak ke Prabowo – Sandi, Hal itu perspektif statis dan linier. Menurut saya, sikap Yusril menguntungkan internal Partai Bulan Bintang, apabila perspektif dinamis dan non linier, karena politik itu bukan ilmu pasti, yang sering dikatakan itu “politik itu cair”.

Yusril adalah Tokoh Islam yang langka yang di terima oleh semua kalangan dan upaya mempersatukan Umat Islam di tengah kegaduhan dan konflik horizontal melalui pemikiran, sikap dan tindakan Yusril yang sangat objektif, kontraversi dan revolusioner.

Ketika Yusril membela HTI dituding dan dituduh serta difitnah pendukung HTI apalagi daya kritis pada rezim yang berkuasa. Ketika Yusril menjadi pengacara Jokowi – Ma’ruf Amin dituding dan dituduh serta difitnah pendukung Jokowi – Ma’ruf Amin.

Jangan melihat Yusril itu hitam dan putih, tetapi lihatlah Yusril sebagai Ketum PBB, Yusril sebagai Pengacara, dan Yusril sebagai Negarawan, yang bisa dibedakan dan tak bisa dipisahkan.

Melihat sikap Yusril menjadi pengacara Jokowi – Ma’ruf Amin, mengingat saya sikap politiknya Bung Karno “Politik Non Blok”, Bung Hatta ” Politik Mendayung Diantara Dua Karang”, Bung Sjahrir ” Politik Perjuangan Kita”, dan Bung Natsir “Bulan Bintang: Politik Santun Diantara Dua Rezim”, yang berdiri untuk kepentingan Bangsa yang diutamakan daripada kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Sikap Yusril biarlah sejarah yang membuktikan pada suatu saat nanti, seperti yang dilakukan Rasulullah SAW menyatukan kaum Muhajirin dan kaum Ansor. Dan, seorang pejuang Islam tidak akan pernah lari dari medan pertempuran sebagaimana dilakukan pejuang Islam terdahulu dan sebagaimana sikap Sayyid Qutub rela mati tiang gantung memperjuangkan syari’at Islam. Labeling PBB saat ini adalah “Bela Islam”, ” Bela Ulama”, “Bela Rakyat”, “Bela NKRI”.

Jakarta, 6 November 2018