HIV/AIDS Menyerang Anak Negeri, Stop Biang Keladi

168

Oleh: Ita Mumtaz
Pendidik Generasi

Membayangkan wajah polos anak belia, tak mampu kita menahan pilu manakala mendengar kabar beritanya. Penyakit mengerikan dan mematikan, HIV/AIDS telah merampas harapan dan masa depan anak-anak. Dulu penyakit terkutuk ini hanya menggerogoti raga manusia dewasa. Saat ini, lembaran fakta menyayat hati menghentakkan benak kita. Semakin menyadari betapa kejam kehidupan beralas kapitalisme.

Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dan dua anak perempuan usia 10 tahun dan 7 tahun di Samosir telah terpapar virus HIV/AIDS (medan.tribunnews.com).

Lebih mengenaskan lagi, sejumlah 330.152 penduduk Indonesia mengidap HIV/AIDS dan mayoritas masih belia. (okezone.com).

Sungguh sebuah fenomena yang menyesakkan dada. Anak-anak yang selayaknya hidup sehat, semangat dan ceria dalam dekapan cinta orang dewasa, kini melemah raganya. Mereka harus menelan pil pahit kehidupan, terenggut paksa mental dan jiwanya. Menggigil di sudut ruang hampa kapitalisme.

Mengidap penyakit HIV/AIDS, sama saja dengan hidup terkapar dalam duka lara. Penyakit menular dan mematikan yang tak dapat disembuhkan. Sampai detik ini pun belum ditemukan obat dan vaksinnya. Bila tubuh terinfeksi virus HIV, maka akan terus menggerogoti hingga berakhirlah hidupnya.

Bagaimana bisa, anak-anak yang seharusnya suci tak bernoda, bisa terjangkiti virus HIV? Tidak lain adalah berawal dari virus kebebasan yang semakin bercokol dalam masyarakat kita. Gaya hidup sekuleris, yakni memisahkan agama dari kehidupan, telah dipertontonkan dengan vulgar di negeri ini. Sebuah negeri dengan penduduk mayoritas muslim, namun bukan lagi halal haram yang menjadi pijakannya. Acara televisi yang mengajarkan kehidupan hedonis senantiasa diaruskan ke tengah-tengah pemirsa. Drama dan sinetron kegemaran anak-anak serta remaja yang kental dengan kehidupan sekularis telah melenakan mereka.

Sengaja nilai sekulerisme perlahan disuntikkan dalam jiwa-jiwa muslimin. Sarat dengan pesan licik, yaitu bermaksiat tidak masalah, bergaul bebas laki-laki dan perempuan bukan lagi aib. Justru kekinian dan sejalan dengan semangat modernisasi. Asalkan rajin sholat dan pandai mengaji. Pacaran tak lagi memalukan, berduaan di tempat gemerlap penuh warna hedonisme jadi pemandangan biasa. LGBT semakin merebak dan menjadi komunitas eksis yang dilegalkan. Jika sudah seperti ini, hendak ke mana generasi kita melangkah? Tidak terasa perlahan bergeser, bukan lagi surga yang mereka dambakan. Namun kenikmatan semu dalam pergaulan bebaslah yang mereka cari. Hingga hawa nafsu membius diri. Lupa bahwa mereka adalah hamba Allah yang harus bertakwa dalam menapaki kehidupan yang fana.

Tak bisa kita pungkiri, penyebab virus HIV berawal dari perzinaan. Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan dan menyimpang. Sedangkan penularannya melalui transfusi darah yang mengandung virus HIV, bisa melalui jarum suntik bekas pengidap HIV, tindik, tattoo, narkoba injeksi, dan bisa pula Ibu hamil pengidap virus HIV kepada kepada janinnya.

Data PBB menunjukkan sekitar 3200 anak di Indonesia terjangkit HIV dengan penularan dari ibu. Penularan yang paling banyak adalah adalah para istri pengguna narkoba dengan suntik, para pengguna jasa pekerja seks komersial, istri para pria gay dan pria gay. (BBC News Indonesia, 23/10/2018). Sehingga bisa dipastikan, yang menjadi dalang dari semua ini adalah pergaulan bebas tanpa batas.

Namun ternyata ada pihak yang berupaya mengelak adanya fakta ini dengan argumen yang berbelit. Atas nama hak asasi dan toleransi, mereka menyampaikan bahwa ada kesalahan dalam mengkampanyekan soal HIV/AIDS. Mereka berpendapat, penyebab HIV/AIDS bukanlah pergaulan bebas (pelaku seks bebas). Dikatakan pula bahwa ketika kita mempersoalkan masalah pergaulan, maka tak akan bisa menanggulangi penyakit ini. Namun justru hal ini akan menyebabkan tidak terealisasinya HAM dan meningkatnya sikap intoleransi. Mereka beranggapan bahwa bukan hubungan seksnya yang harus disalahkan. Hanya saja, hubungan seks yang dilakukan harus dipastikan aman. Salah satu caranya adalah dengan memakai kondom. Maka, pantas saja ketika HIV/ AIDS mengancam negeri, solusi yang ditawarkan adalah 3C (Condom, Correct, Consistent).

Sungguh logika berfikir yang terbalik dan menyesatkan. Akar masalah tidak disentuh, namun justru menambah deretan masalah baru. Adanya seruan penggunaan kondom, sama saja dengan membuka lebar-lebar pintu seks bebas, melegalkan perzinaan. Padahal dalam Islam, yang demikian adalah termasuk perbuatan keji dan jalan yang buruk. Mendekatinya saja diharamkan oleh Allah, apalagi melakukannya. Na’udzubillahi min dzalika. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Israa’ 32.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”

Solusi Islam Menanggulangi HIV/AIDS

Pencegahan HIV/AIDS bisa dilakukan dengan cara menerapkan aturan Islam tentang tata pergaulan laki-laki dan perempuan. Termasuk tidak pacaran (bagi yang belum menikah) dan setia pada pasangan (bagi suami isteri).

Islam pun memiliki solusi yang khas dalam menanggulangi penyebaran penyakit AIDS. Mengingat penyakit ini adalah penyakit menular dan penularannya melalui kondisi-kondisi tertentu.

Bagi mereka yang mengidap virus HIV/AIDS, jika terbukti sebagai pelaku zina, maka negara akan menjatuhkan hukuman zina kepada pelakunya. Dengan dijatuhkannya sanksi rajam bagi penderita HIV/AIDS yang muhshan (telah menikah). Selain bisa mengurangi jumlah penderita HIV/AIDS, juga meminimalisir penularan kepada orang lain. Sekaligus yang terpenting adalah menghapus dosa di sisi Allah SWT. Karena fungsi dari sanksi dalam hukum dalam Islam adalah sebagai zawajir (pencegah dari kejahatan) juga sebagai penebus dosa di akhirat (jawabir). Maksudnya, jika seorang pelaku kejahatan mendapatkan sanksi di dunia, maka Allah akan menghapus dosanya dan meniadakan baginya sanksi di akhirat, bagi orang yang Dia kehendaki.

Bagi yang ghairu muhshan (belum menikah) akan dijatuhi sanksi jilid sebanyak 100 kali. Setelah itu, dia akan mendapatkan perlakuan yang khas dari negara. Yaitu negara akan memberikan layanan pengobatan terjangkau bahkan gratis namun berkualitas.

Bagi penderita yang tidak terbukti melakukan zina, misalnya istri dari pelaku zina dan anak-anak yang tertular virus dari orang tua, maka mereka pun mendapatkan pelayanan yang sama dari negara. Karena negaralah yang bertanggung jawab terhadap kesehatan setiap rakyatnya.

Negara juga akan berupaya melakukan riset dalam rangka mencari obat anti virus HIV. Penderita juga harus dikarantina dalam pusat rehabilitasi karena virusnya menular dan mematikan. Bimbingan dan pendampingan mental pun akan diselenggarakan dan difasilitasi oleh negara. Berharap mereka bisa menerima kondisi yang ada dengan ikhlas dan sabar, menyadari bahwa sakit adalah ujian dari Allah sekaligus penggugur dosa-dosanya. Sehingga mereka bisa menatap masa depan dan sisa hidupnya dengan penuh semangat dan tawakal. Wallahu a’lam bish-shawab.