Bupati Dompu dan Kerusakan Hutan

274

Oleh: Edy Candra, Kader HMI MPO dan Pemuda Desa Nowa Kab. Dompu.

Berbagai problem yang dihadapi Negara – negara diketegori Negara berkembang adalah mengenai tingkat hidup yang rendah dan tertekan. Sebagian besar penduduk Negara-negara berkembang masih banyaknya kemiskinan termaksuk Indonesia . Sehingga dapat mempengaruhi pembangunan dalam suatu Negara. Untuk mencerminkan tingkat hidup masyarakat dapat dilihat dari konsumsi unsur Pangan, Sandang, Pemukiman Kesehatan dan Pendidikan. Lima jenis kebutuhan pokok masih kurang terpenuhi oleh masyarakat Indonesia baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk mempertahankan derajat kehidupan manusia secara wajar. Selama penduduk masih dibawah standar minimal “ Kewajaran” dan kekurangan konsumsi nyata komponen – komponen pokok maka selama itu pula tingkat hidup tertekan. Akibatnya daya ketahanan dalam masyarakat serba terbatas. Peningkatan taraf hidup masyarakan dengan cara memenuhi kebutuhan konsumsi nyata secara kuantitatif maupun kualitatif. Target hanya akan tercapai yaitu menambah produksi yang mendorong pendapatan masyarakat dan mempercepat proses pertumbuhan ekonomi. Masalah pokok penduduk Indonesia adalah pertama, pengadaan kebutuhan – kebutuhan pokok secara total harus diperbesar, khusunya pengadaan pangan. Kedua penduduk bertambah juga menambah angkatan kerja “mengurangi pengganguran”. Ke- tiga pertambahan penduduk cenderung mempertajam kepincangan dalam pembagian pendapatan antar- golongan masyarakat.

Dalam sturuktur ekonomi sebagian besar penduduk Indonesia mata pencariannya tergantung disektor pertanian. Penambahan penduduk dan angkatan kerja menimbulkan kesulitan di sektor pertanian dan sektor lain dekat pada pertanian. Kalau perimbangan antara tenaga manusia dan luas tanah sudah sangat mendesak maka kepemilikan tanah semakin terpencar. Luas tanah yang semakin kecil dalam proses produksi merupakan kesatuan yang kurang ekonomis. Penambahan angkatan kerja di sektor bersangkutan menimbulkan gejalah pengganguran yang tidak kentara (terselubung) di Daerah Pedesaan. Oleh karena, lapangan kerja di daerah pedesaan menjadi terbatas.

Untuk menanggulangi masalah tersebut pemerintah Indonesia, khususnya Pemerintah Kabupaten Dompu menawarkan suatu program di kenal dengan PIJAR (Sapi, Jagung dan Rumput Laut) kepada masyarakat. agar masyarakat dapat memenuhi komponen-komponen pokok salah satunya dengan cara meningkatkan produksi pertanian secara maksimal. Tentu peningkatan produktifitas harus didukung dengan ketersediaan tanah garapan, sumber daya air, sarana pupuk dan sumber energi. Disamping itu juga, akan menambah nilai ekonomi di masyarakat. mengingat kepemilikan lahan pertanian sangat terbatas. Dengan begitu masyarakat mempeluasnya walaupun melangar Undang – undang Kehutanan. Seperti Kecamatan Woja, Kecamatan Manggelewa, Kecamatan Kempo, Kecamatan Dompu, Kecamatan Pajo, Kecamatan Hu’u dan Kecamatan Pekat demi ketersediaan tanah garapan untuk di tanami jagung tanpa mempertimbangkan ekosistem alam.

Tiga tahun terakhir ini (2016-2017-2018) terjadi penggundulan hutan secara besar-besaran oleh masyarakat . Sehingga terasa dampaknya erosi sudah meluas maka dalam musim kemarau terjadi proses ”pengeringan” dan dialami kekurangan air, sedangkan dalam musim hujan bencana banjir dan lonsor selalu mengancam tanaman maupun kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial dari masyarakat sekitarnya. Perlu diingat pembaharuan ulang dipterocarpa meliputi waktu 60 – 80 tahun. Dengan cara penebangan sekarang ini oleh masyarakat maka penggundulan yang luas merupakan ancaman bahaya sangat nyata seluruh ekologi dan lingkungan hidup.

Pemerintah Kabupaten Dompu sendiri kini seakan terlena dengan kesuksesan program PIJAR yang dimana penghasilan jagung yang diproduksi masyarakat petani telah mampu menyediakan stok jagung Nasional “ Lumbung Jagung”. Sehingga angka kemiskinan berkurang, angka pengganguran dapat di tekan dan meningkatkan perekonomian masyarakat di Kabupaten Dompu. Memang harus di akui kreativitas dalam mengelolah potensi daerah . Tapi pemerintah Kabupaten Dompu “MEMBIARKAN” masyarakat melakukan penggundulan diarea “HUTAN LINDUNG” dengan begitu secara tidak langsung pemerintah Kabupaten Dompu menyuruh masyarakatnya untuk melakukan perbuatan yang melanggar Undang-undang. Berbagai gangguan lingkungan ini mempunyai ciri yang sama, yaitu bahwa manusialah penyebab timbulnya bencana. Manusia muncul mengelolah sumber alam tanpa mengendalikan pengaruh nagatifnya kepada lingkungan sehingga merusak alam dan mengusik lingkungan pemukiman binatang, maka alam bereaksi kembali. Dengan penglihatan lingkungan, manusia menempatkan manusia sebagai bagian dari lingkungan ciptaan tuhan. Antara manusia dengan lingkungan terdapat hubungan timbal-balik tertuang dalam berbagai ragam lingkaran (siklus) mata rantai kehidupan, seperti : siklus hidrogenmengatur mata rantai – rantai peredaran air, siklus hara mengatur mata rantai makanan dalam perimbangan antara berbagai jenis dan populasi makhluk.siklus lain merupakan struktur dasar ekosistem.

Kegiatan pembangunan adalah mengolah sumber alam dan mengubah lingkungan. Perubahan lingkungan ini dapat memutuskan mata rantai dalam berbagai siklus yang hidup dalam ekosistem, sehingga mengganggu keselarasan hubungan manusia dengan lingkungan. Karena itu sangatlah penting agar proses pembangunan dilaksanakan dengan memelihara keutuhan berfungsinya berbagai siklus yang hidup dalam ekosistem ini. Namun apa yang mau di kata pembangunan di Kabupaten Dompu memakai model pembangunan melalui mekanisme pasar. Maka wajar pula apabila sumber alam diolah tanpa keharusan menanamnya kembali. Hutan tersedia untuk dimanfaatkan.hutaan adalah barang gratis anugerah tuhan. Setiap ketentuan untuk memperbaharui hutan yang tebang dirasakan menambah beban ongkos dan mengurangi keuntungan.

Disinilah sebenarnya upaya pemerintah kabupaten dompu yang di pimpin H. BAMBANG M. YASIN alias HBY membuat gerakan menumbuhkan kesadaran lingkungan manusia supaya pengelolaan sumber alam bagi pembangunan dapat dilakukan sejalan dengan pengembangan lingkungan, menyebarluaskan penghayatan dan penglibatan manusia pada proses pembangunan tanpa kerusakan lingkungan dan menumbuhkan penglihatan dan orientasi pembanguna dengan pengembang lingkungan karena telah menawarkan program kepada masyarakat. Jika kita perhatikan berbagai kejadian kerusakan lingkungan adalah perwujudan dari orientasi penglihatan pembangunan yang memerlukan penyempurnaan. Kerusakan lingkungan adalah gejalah dari sikap pembanguna yang kurang menyadari pentingnya segi lingkungan hidup. Maka dari sangat penting penyelamatan hutan, tanah dan air. Dalam pengelolaan sumber alam yang utama adalah mencegah timbulnya pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber alam agar bisa digunakan terus – menerus untuk generasi di masa depan.

Dompu, 06 Febuari 2018

Daftar Pustaka
Emil Salim. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. – Cetakan Keempat, Penerbit LP3ES Jakarta:1986
Sumitro Djojohadikusumo. Indonesia dalam Pemkerbangan Dunia Kini dan Masa Datang. – Cetakan Kedelapan, Penerbit LP3ES Jakarta:1991

[Telegram Nusa Tenggara]