Indonesia Merdeka Hanyalah Fatamorgana?

401

Oleh: Alimudin, Mantan Sekretaris Komisariat HMI MPO Eksakta IKIP Mataram

Pada 17 Agustus 1945, Indonesia dinyatakan resmi menjadi Negara yang merdeka dan berdaulat, serta terbebas dari segala bentuk penjajahan yang mengakibatkan pertumpahan darah. Indonesia berkewajiban mengelola dan mengatur Sumber Daya Alam yang terkandung di dalamnya tanpa harus ada intervensi dari Negara luar lagi. Indonesia harus mampu menjadi Negara yang mandiri baik secara ekonomi, politik, hukum, dan pertahanan. Namun, itu semua hanyalah “ILUSI” dan “Fatamorgana” yang hanya ada dalam semangat “Sang Founding Father”, kenyataannya yang dialami sekarang ini berkata lain, Negara 99% telah dikelolah oleh korporasi besar dan investor asing.

Mengapa tidak? kebanyakan pemimpin kita, mulai pemimpin negara, elit-elit politik, wakil rakyat, gubernur dan bupati, masih memiliki dan menyimpan mentalitas Inlander atau masih mewarisi mental terjajah, kalau boleh dikatakan sebagai mental seorang budak, yang siap turut dan tunduk serta siap melayani para korporasi, sehingga menjadi budak di negerinya sendiri. Mereka takut melawan para korporasi besar yang kapitalistik dan eksploitatif.

Sehingga bangsa Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Kedaulatan bangsa kita, kedaulatan ekomoni, kedaulatan politik, kedaulatan hukum, kedaulatan pertahanan dan keamanan, ditambah kedaulatan pendidikan telah tergadai begitu saja. Ini semua diakibatkan dari pemimpin dan kronik-kroniknya sering melacurkan dirinya dibawah para korporasi besar dan tunduk pada kapitalisme global.

Banyak Sumber Daya Alam bangsa ini yang dikerut dan dijarah serta dieksploitasi besar-besaran oleh korporasi besar yang mayoritasnya dimiliki oleh investor asing, yaitu berupa PT. Freeport, Blok Cepu, PT. Newmont Nusa Tenggara, dan PT. Indosat, ini semua telah dikelola oleh investor-investor asing, serta Badan Usaha Milik Negara menjadi ancaman juga. Hal ini akibat dari ketertundukan bangsa dan pemimpin terhadap organisasi-organisasi kapitalistik seperti IMF, WTO, dan World Bank, yang selama ini kerjanya tidak lain dan tidak bukan untuk melakukan eksploitasi kepada Negara- Negara berkembang.

Kemarin, 14 Oktober 2018 saat acara pertemuan antara IMF dan World Bank di Bali, bangsa kita telah mengulang kembali sejarah kelam, dimana pemimpin bangsa telah melakukan kesalahan yang sama seperti pada tahun 1997 di bawah pimpinan Bapak Presiden Soeharto pada saat terjadinya krisis moneter, Bapak Soeharto kala itu meminjam utang kepada IMF dengan dalih untuk menanggulangi krisis moneter, kemiskinan, dan pembangunan. Namun, apa yang terjadi tidak ada perubahan sedikitpun yang dialami bangsa waktu itu, dan bangsa tidak mampu membayar utang kepada IMF sehingga akibatnya banyak Sumber Daya Alam kita yang dikerut, dijarah serta dieksploitasi oleh para korporasi besar dibawah naungan IMF, WTO, serta World Bank. Dan sekarang mentalitas inlander itu telah diulang kembali oleh rejim Jokowi sekarang ini, kemarin rejim Jokowi meminta utang kepada IMF sebesar 15 T hanya untuk menanggulangi bencana Alam yang terjadi di NTB dan PALU, tanpa memikirkan akibat dan dampaknya dikemudian hari untuk bangsa kita ini, rejim sekarang telah lupa betapa kejamnya IMF, dan World Bank dalam merampas kekayaan Alam. Dari dulu sampai sekarang pemimpin dan manusia Indonesia masih menyimpan dan memiliki mental yang Inlander.

Maka dari itu, untuk mengatasi masalah ini dibutuhkan pemimpin yang berdikari, pemimpin yang bersifat baja yang tidak takut dan tidak tunduk serta tidak gentar apabila digertak dan di skak oleh para korporasi besar. Pemimpin cerdas yang memiliki terobosan-terobosan baru dalam mengelola dan memimpin bangsa ini, sehingga berani keluar dari keterkungkungan para kapitalisme global semacam IMF, WTO, World Bank yang selama ini menindas bangsa ini. Kita harus belajar kepada Negara- Negara yang sudah tidak lagi berhubungan dengan IMF, WTO, dan World Bank, seperti Argetinan di bawah kepemimpinan Nestor serta Christina krichner, Venezuela ( Hugo Chaves), Bolivia (Evo Morales), Ecuador (Rafael Carrera), Uruguay (Tabare Vasquez), dan Negara Brazil (Lula Da Silva). Negara- Negara ini telah mengucapkan “Selamat Tinggal” kepada IMF, WTO, dan World Bank yang bersifat kolonialisasi, bahkan Negara- Negara ini juga tidak bermental Inlander.

Editor: Suparman