Oleh : Hanik Syukrillah, M.Si

Kota Malang berhasil memecahkan rekor korupsi terbanyak, jumlah total tersangka kini menjadi 41 orang dan mengalahkan kasus suap APBD Pemprov Sumut yang menjerat 38 anggota DPRD Kota Sumatera Utara periode 2009-2014 sebagai tersangka (4/9/18, merdeka.com).

Kota Malang dikenal sebagai kota pendidikan. Terdapat setidaknya lebih dari 80 Perguruan Tinggi yang tersebar di wilayah Malang Raya (2/5/16, merdeka.com). Kasus korupsi berjamaah yang menimpa kota Malang dan beberapa daerah tentunya mengusik akal sehat kita, jika kita berupaya melihat dari faktor pendidikan maka kita bisa pastikan, bahwa para koruptor ini pastinya orang-orang yang biasa memakan bangku sekolah. Namun miris ternyata ilmu yang mereka dapatkan bisa menjadikan mereka berani melakukan tindakan yang tercela.

Menilik dari peristiwa diatas, maka kita perlu terus mengevaluasi apa yang terjadi dalam pendidikan hari ini. Pendidikan menjadi cara sebuah negara untuk mempertahankan peradaban, peradaban Sosialis menjaga anak cucunya dengan menginternalisasi ideologi Komunis. Peradaban Kapitalis juga berupaya mempertahankan peradapannya dengan menjaga ide kebebasan agar terus bercokol dibenak pemuda mereka.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia juga mengikuti pemikiran yang paling berpengaruh didunia saat ini, yaitu Kapitalisme. Diakui atau tidak, dampak pendidikan Kapitalisme telah melahirkan generasi materialistik. Pengaruhnya terhadap pendidikan begitu terasa, sehingga ketika orang bersekolah tidak lagi dengan tujuan untuk mencari ilmu, namun untuk mendapatkan materi sebanyak-banyaknya, konsekuensinya seseorang akan menghalalkan segala cara agar materi tersebut didapatkan, tanpa mempertimbangkan pahala dan dosa. Tidak heran karena kehidupan Kapitalisme memang meniadakan aturan agama dalam kehidupan, atau yang biasa dikenal dengan sekulerisme.

Sistem pendidikan yang berdasarkan materialistik ini terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus menguasai iptek. Secara formal kelembagaan, sekulerisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departamen yang berbeda, yakni Depag dan Depdikbud. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tak tersentuh oleh standar nilai agama. Kalaupun ada hanyalah etik (ethic) yang tidak bersandar pada nilai agama.

Pendidikan yang materialistik memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau apapun yang setara dengan nilai materi yang telah dikeluarkan. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standar penilaian sikap dan perbuatan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.

Pengamatan secara mendalam atas semua hal di atas, membawa kita pada satu kesimpulan yang sangat mengkhawatirkan: bahwa semua itu telah menjauhkan manusia dari hakikat kehidupannya sendiri. Manusia telah dipalingkan dari hakikat visi dan misi penciptaannya.

Berbeda sistem pendidikan dalam Islam, yang memiliki pandangan bahwa ilmu adalah hajat kehidupan publik bukan jasa untuk dikomersilkan, aqidah Islam menjadi landasan tujuan dan kurikulum pendidikan; negara adalah pihak yang bertanggungjawab langsung dan sepenuh dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pendidikan setiap individu publik.

Sistem Pendidikan Islam terbukti sukses melahirkan secara massal para ilmuwan, dan pakar dengan kebaikan yang menggunung. Berjalan dengan fikiran cemerlang menuju kesempurnaan. Jiwanya digadaikan di jalan Islam karena mengharapkan ridho Allah swt. Semangatnya menyala-nyala serta berkemampuan luar biasa menghadapi problematika kehidupan dengan solusi yang detail, dan cermat. Hingga hari ini kebaikan generasi pendidikan Islam dalam berbagai bidang keahliannya tidak pernah bisa tertandingi oleh sistem pendidikan manapun juga pendidikan barat.

Semua itu adalah buah manis kehadiran negara secara benar, sebagai pelaksana syariat Islam secara kaafah. Sungguh petunjuk dari Allah swt sajalah yang patut diikuti agar kemuliaan dunia akhirat dapat diraih, Allah swt berfirman yang artinya, “…. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”(Terjemahan QS An Nuur: 35).

Karenanya, satu-satu jalan bagi terwujudnya pendidikan bermutu bagi semua anak bangsa hari ini hanyalah dengan Islam. Allahu A’lam.