Dapatkah Bumbu Umami Membantu Masalah Kesehatan yang Besar?

386

Keterkaitan Antara Umami, Garam, dan Tekanan Darah Tinggi

Tekanan Darah Tinggi: “Pembunuh Terselubung”

Biasanya, bila Anda mengunjungi dokter, salah satu hal pertama yang terjadi adalah seseorang memasang alat pengukur tekanan darah pada lengan Anda, memompanya, lalu membuat catatan pada grafik Anda. Jika Anda beruntung dan sehat, hanya pada saat inilah Anda harus memikirkan tentang tekanan darah. Bagi banyak orang lainnya, dokter mungkin memberi tahu bahwa tekanan darah Anda agak tinggi dan Anda harus memperhatikan asupan makanan atau lebih banyak olahraga.

Pemeriksaan tekanan darah menjadi suatu hal yang lumrah hingga kurang dianggap penting. Namun, memiliki tekanan darah tinggi (dalam istilah medis disebut “hipertensi”) sebenarnya sangat berbahaya. Bahkan, menurut Mayo Clinic yang terkenal di dunia, sekitar separuh dari pengidap hipertensi yang tidak diobati akan meninggal akibat penyakit jantung terkait gangguan pada aliran darah seperti serangan jantung dan sepertiga lainnya dapat diperkirakan meninggal karena stroke1. Selain itu, tekanan darah tinggi sendiri tidak memiliki gejala yang terlihat dan tentu saja hal ini menjadi alasan mengapa dokter memeriksanya pada setiap kesempatan.

Meskipun kita mengetahui bahaya hipertensi dan mampu mengontrolnya melalui diet, olahraga, serta bermacam obat yang efektif, namun hipertensi meningkat di berbagai negara di seluruh dunia. Pada tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi hipertensi di antara orang dewasa berusia minimal 18 tahun adalah 20% untuk wanita dan 24% untuk pria2. Lebih buruk lagi, hipertensi diperkirakan menjadi penyebab 9,4 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya3. Angka ini adalah 13% dari semua kematian dengan penyebab apa pun4!

Selain menjadi beban berat bagi pasien dan keluarga mereka, hipertensi juga menjadi beban berat bagi masyarakat, yakni dalam bentuk biaya perawatan kesehatan. Di Amerika Serikat sendiri, biaya tahunan hipertensi diperkirakan mencapai 54 miliar USD4. Sebagai perbandingan, jumlah uang yang sangat besar ini cukup untuk diberikan kepada setiap orang di Amerika Serikat, Inggris, dan Rusia, masing-masing senilai seribu dolar5.

Namun, ada kabar baik. Tidak setiap negara mengalami peningkatan hipertensi. Salah satu negara yang melawan tren ini adalah Jepang, dengan prevalensi hipertensi yang terus menurun sejak tahun 1960-an. Salah satu penyebab tren positif ini diperkirakan adalah perbaikan pada diet, dan terutama, penurunan asupan garam meja.
Hubungan Antara Garam Meja dan Hipertensi

Sodium sangat penting untuk kesehatan manusia. Tanpa sodium, kita tidak dapat mengontraksikan otot dan sistem saraf tidak akan berfungsi karena kita tidak dapat mentransmisi impuls saraf. Selain penting untuk kesehatan perorangan, dapat dikatakan bahwa garam bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kita sebagai spesies. Pada zaman kuno, makanan tidak selalu tersedia. Musim dingin yang sulit dapat mengganggu perburuan dan musim semi yang kering dapat merusak panen. Sebagai hasilnya, selama ribuan tahun manusia telah menggunakan garam sebagai pengawet makanan, termasuk daging, mentega, dan bahkan roti, sehingga menjamin ketersediaan sumber makanan bergizi sepanjang tahun.

Namun, fakta bahwa konsumsi garam meja yang berlebihan dapat mengakibatkan hipertensi telah diterima secara luas. Bagaimana sesuatu yang sangat penting untuk kesehatan kita juga bertanggung jawab atas tekanan darah tinggi sebagai “pembunuh terselubung”? Singkatnya, semakin banyak sodium dalam tubuh, semakin sulit untuk menghilangkan air berlebih dalam darah. Secara sederhana, ini berarti cairan dalam aliran darah Anda lebih banyak, sehingga tekanan lebih tinggi.

Konsumsi garam hanya salah satu penyumbang tekanan darah tinggi, namun dibandingkan sejumlah faktor lainnya seperti keturunan atau stres, konsumsi garam sedikit lebih mudah dikontrol. Itulah sebabnya WHO telah mengeluarkan panduan bahwa masyarakat sebaiknya mengonsumsi kurang dari 2 gram sodium per hari, yang setara dengan sekitar 5 gram garam meja6. Selain itu, Negara Anggota WHO telah setuju untuk mengurangi asupan garam populasi dunia sebesar 30% pada tahun 20257.

Dapatkah Bumbu Umami Menjadi Bagian dari Solusi Ini?

Bumbu umami (monosodium glutamat, MSG) bukan garam meja. MSG mengandung 12% sodium, dibandingkan dengan kandungan sodium sebesar 39% dalam garam meja. Selain itu, dibandingkan dengan garam meja, jumlah MSG yang diperlukan untuk melezatkan makanan jauh lebih sedikit. Kedua poin tersebut berarti jumlah total asupan sodium dari bumbu umami jauh lebih sedikit daripada garam meja.

Hal ini mengarah pada pertanyaan menarik: Karena jumlah bumbu umami yang diperlukan untuk melezatkan makanan relatif sedikit, serta jumlah kandungan sodium dalam bumbu umami yang relatif sedikit, apakah penggunaan bumbu umami dapat membantu masyarakat mengurangi asupan garam?

Setidaknya berdasarkan satu studi, jawaban atas pertanyaan tersebut tampaknya adalah “Ya”. Subjek mengevaluasi kemampuan merasakan sup bening Jepang yang dibumbui menggunakan garam meja, dan sup bening lain yang dibumbui menggunakan garam meja dan bumbu umami yang jauh lebih sedikit. Hasilnya menunjukkan bahwa dengan penambahan bumbu umami, tingkat kemampuan merasakan yang sama dapat dicapai menggunakan garam 30% lebih sedikit8! Di Ajinomoto Co., Inc. (“Ajinomoto Co.”), kami yakin bahwa kami mampu mencapai pengurangan asupan garam yang serupa untuk berbagai hidangan tradisional di seluruh dunia.

Menjalankan Peran Kita untuk Mengurangi Konsumsi Garam Meja

Dalam menjaga komitmen kami untuk membantu masyarakat makan sehat dan hidup sehat, Ajinomoto Co. terlibat dalam berbagai aktivitas di seluruh dunia agar dapat membantu masyarakat mengurangi asupan garam meja. Misalnya:

· Jepang: Menetapkan “Hari Pengurangan Garam” resmi bersama Masyarakat Hipertensi Jepang dan pada hari ini, Ajinomoto Co. mempromosikan jenis makanan rendah garam di sejumlah toko besar di seluruh Jepang

· AS: Mengadakan demo masak dan umami pada Konferensi dan Pameran Gizi Makanan, yakni pertemuan tahunan terbesar di dunia bagi pakar makanan dan gizi

· Vietnam: Menyediakan perangkat lunak pengembangan menu untuk membuat makan siang sekolah yang seimbang dengan jumlah bumbu umami dan kandungan garam yang sesuai bagi lebih dari 4.000 sekolah

· Brasil, Peru, dan Indonesia: Mengadakan sejumlah simposium tentang bumbu umami dan pengurangan garam

· Malaysia: Menerbitkan buku masak rendah garam dan kaya umami dengan mempertimbangkan rekomendasi WHO untuk asupan garam harian

Janji Kami

Pengurangan asupan garam merupakan salah satu tindakan paling hemat biaya yang dapat dilakukan berbagai negara untuk meningkatkan hasil kesehatan masyarakat. Jika konsumsi garam dapat dikurangi sebesar 30% pada tahun 2025, maka sekitar 2,5 juta kematian akibat hipertensi dapat dihindari setiap tahunnya7. Kami berkomitmen dengan sungguh-sungguh untuk berkontribusi terhadap upaya di seluruh dunia ini melalui komunikasi dan demonstrasi berdasarkan bukti tentang penggunaan bumbu umami secara efektif sebagai bagian dari diet sehat, seimbang, dan lebih rendah garam.

Tentang Ajinomoto Co., Inc

Ajinomoto Co. adalah produsen global bumbu, makanan olahan, minuman, asam amino, obat-obatan, dan bahan kimia khusus berkualitas tinggi. Selama beberapa dekade, Ajinomoto Co. telah berkontribusi dalam budaya makanan dan kesehatan manusia melalui penerapan teknologi asam amino secara meluas. Saat ini, perusahaan semakin terlibat dalam solusi sumber makanan, kesehatan manusia, dan keberlanjutan global yang lebih baik. Didirikan pada tahun 1909 dan kini beroperasi di 35 negara dan wilayah, penjualan bersih Ajinomoto Co. sebesar JPY1.150,2 miliar (USD10,36 miliar) pada tahun fiskal 2017. Informasi selengkapnya tentang Ajinomoto Co. (TYO: 2802), kunjungi www.ajinomoto.com.

Referensi:

1. Staf Mayo Clinic, “Bahaya tekanan darah tinggi: Efek hipertensi pada tubuh Anda,” Mayo Clinic.

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/high-blood-pressure/in-depth/high-blood-pressure/art-20045868

2. WHO, “Data Observatorium Kesehatan Global (GHO): Tekanan Darah Naik,” Organisasi Kesehatan Dunia.

http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_text/en/

3. WHO, “Tanya Jawab Tentang Hipertensi,” Organisasi Kesehatan Dunia, September 2015.

http://www.who.int/features/qa/82/en/

4. Luis Alcocer dan Liliana Cueto, “Tinjauan: Hipertensi, perspektif ekonomi kesehatan,”

Kemajuan Terapi Penyakit Kardiovaskuler 2 (3): 147-155, 1 Juni 2008.

5. Grup Bank Dunia, “Data: Populasi, total: Semua Negara dan Ekonomi,” Bank Dunia.

https://data.worldbank.org/indicator/SP.POP.TOTL?name_desc=false

6. WHO, “WHO Mengeluarkan Panduan Baru Tentang Garam dan Kalium Makanan,” Organisasi Kesehatan Dunia, 31 Januari 2013.

http://www.who.int/mediacentre/news/notes/2013/salt_potassium_20130131/en/

7. WHO, “Pengurangan Garam,” Organisasi Kesehatan Dunia, 30 Juni 2016.

http://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/salt-reduction

8. Arsip data.