McKinsey & Company: Penghasilan dari Perdagangan Online akan Tumbuh Delapan Kali Lipat

385

JAKARTA, TELEGRAM – Penjualan barang-barang secara online di Indonesia meningkat pesat. Dalam lima tahun saja, pemasukan diperkirakan meningkat delapan kali lipat hingga US$ 65 miliar (Rp 910 triliun), menurut laporan terbaru dari McKinsey & Company, “The digital archipelago: How online commerce is driving Indonesia’s economic development”.

Pertumbuhan ini akan dengan jelas membawa keuntungan finansial bagi ekonomi, meningkatkan kesetaraan sosial dan gender, sembari meningkatkan inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi di luar pulau Jawa.

“Sudah ada berbagai riset mengenai dampak teknologi digital pada ekonomi Indonesia,” kata Phillia Wibowo, Presiden Direktur PT McKinsey Indonesia. “Namun, yang kurang hingga saat ini, dan yang menjadi fokus laporan kami, adalah dampak pada sektor ril[1]. Riset kami menunjukkan bahwa bukan hanya bagaimana penjualan online meningkat pesat, namun juga bagaimana ini menguntungkan bagi ekonomi, dan sekaligus mendorong kesetaraan sosial.”

Indonesia adalah pasar perdagangan online terbesar di Asia Tenggara, dengan estimasi penjualan senilai sekitar US$ 8 miliar (Rp 112 triliun) pada 2017,[2] yang mewakili hanya 5 persen dari total penjualan ritel. Evolusi perdagangan online di negara-negara lain memperlihatkan bahwa Indonesia saat ini menyerupai Tiongkok pada 2010, dengan penetrasi e-tailing, PDB per kapita, penetrasi internet, pembelanjaan ritel, dan urbanisasi ada di tingkatan yang serupa. Berdasarkan pertumbuhan perdagangan online Tiongkok yang sangat cepat dari 3 persen pada 2016 ke 16 persen saat ini, sangat mungkin bagi Indonesia untuk bertumbuh dengan kecepatan yang sama – atau bahkan lebih cepat dikarenakan kegemaran masyarakat Indonesia dalam menggunakan ponsel pintar dan media sosial.

Ekspansi perdagangan online di Indonesia membawa berbagai keuntungan bagi ekonomi

Pertama, perdagangan online mendorong konsumsi. Penjualan offline bukan saja bergeser ke platform online; akan tetapi, perdagangan online mendorong penjualan menjadi lebih banyak. Riset kami menunjukkan bahwa sekitar 30 persen dari perdagangan online – dengan penjualan senilai US$3 miliar (Rp 42 triliun) di 2017 – merupakan pembelanjaan tambahan. Proporsi ini kemungkinan akan meningkat ke US$22 miliar (Rp 308 triliun) pada 2022 berkat meluasnya perdagangan online ke daerah-daerah dimana ada kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi.

Kedua, perdagangan online mendorong ekspor dari Indonesia dengan mempermudah para penjual untuk mencari dan memenuhi permintaan dari luar negeri. Sektor perhiasan di Indonesia sudah menikmati hasilnya, dengan adanya pengrajin-pengrajin yang menjual produk mereka ke para pemborong lokal, yang lalu menjual kembali ke peritel-peritel luar negeri, biasanya di Eropa dan Amerika Serikat. Kami memperkirakan bahwa perdagangan online bisa menghasilkan hingga US$26 miliar (Rp 364 triliun) dalam bentuk ekspor baru per tahun di Indonesia pada 2022.

Ketiga, perdagangan online akan mendorong penciptaan lapangan pekerjaan. Saat ini, perdagangan online menyokong empat juta pekerjaan, sebuah angka yang bisa naik hingga 26 juta pada 2022. Beberapa bentuk pekerjaan akan berpindah dari dunia offline ke online, namun dampak keseluruhan akan positif. Satu hal yang akan sangat penting adalah memastikan bahwa para pekerja mempunyai kemampuan dan dukungan yang diperlukan untuk bertransisi ke pekerjaan-pekerjaan baru.

Keempat, dan mungkin yang terpenting, adalah dampak signifikan pertumbuhan perdagangan online pada kesetaraan sosial. Para konsumen di daerah-daerah kecil di luar Jawa tidak hanya mendapatkan pilihan produk yang lebih beragam, namun mereka juga bisa membeli produk-produk tersebut dengan harga lebih murah dibanding sebelumnya. Di luar pulau Jawa, harga-harga online lebih rendah antara 11 hingga 25 persen dibanding peritel tradisional. Selain itu, perdagangan online mendorong inklusi keuangan.Perdagangan online telah memungkinkan 300.000 pemilik usaha mikro[3]. Terakhir, perdagangan online mendukung kesetaraan gender karena memudahkan perempuan-perempuan untuk berpartisipasi dalam ketenagakerjaan, baik paruh waktu ataupun dari jarak jauh. Kini, usaha yang dimiliki oleh perempuan menyumbang 35 persen ke penjualan online, dua kali lipat dibandingkan dengan penjualan offline.

Bagaimana mendorong perdagangan online di Indonesia

Laporan ini menyoroti beberapa rintangan yang mungkin timbul saat mencoba memperluas perdagangan online di Indonesia. Laporan ini menyimpulkan bahwa ada kebutuhan untuk menciptakan ekosistem yang terdiri dari pemain perdagangan online, penyedia logistik, peritel, layanan keuangan, investor, dan pemerintah. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus didorong untuk merambah usaha mereka ke dunia online, sementara pemerintah dan perusahaan bisa bekerja sama untuk menjawab keterbatasan talenta-talenta teknis yang ada di Indonesia.

Ekosistem digital

Sebuah ekosistem digital yang hidup, dimana perdagangan online menjadi sebuah bagian, akan membutuhkan infrastruktur logistik dan pembayaran cashless yang lancar. Kemampuan logistik Indonesia saat ini mengalami banyak tekanan. Namun, jika ingin perdagangan online memenuhi potensi pertumbuhannya yang tertera dalam laporan ini, sekitar 1,6 miliar paket e-tail akan dikirim per tahun pada 2022. Ini berarti Indonesia akan mengirim lebih banyak paket dalam lima tahun mendatang dibandingkan sebelumnya. Selain itu, Indonesia akan melihat lebih banyak pembayaran non-cash di lima tahun mendatang dibanding sebelumnya.

UMKM

Lebih dari 60 persen, atau 36 juta UMKM di Indonesia sudah berada di dunia online, namun angka tersebut bisa naik dua kali lipat pada 2022 agar menyokong potensi pertumbuhan penjualan online. Banyak UMKM yang memiliki pengetahuan terbatas dan akan membutuhkan bantuan, khususnya dalam mengatur sistem pemesanan dan pembayaran online. Hanya sekitar 15 persen UMKM yang berada di dunia online saat ini menyediakan fasilitas tersebut, dan ini menghambat tingkat kompetitif ekspor.Perusahaan menengah dan besar, perlu tumbuh untuk menangkan permintaan domestic yang meningkat dan potensi pasar ekspor. Saat ini, perusahaan menengah di Indonesia adalah 0,1 persen dari total perusahaan dibandingkan dengan rata-rata global yaitu 2 persen. Beberapa hambatan dalam pertumbuhan tersebut meliputi akses terbatas ke pembiayaan, dukungan infrastruktur yang kurang memadai, bimbingan bisnis yang terbatas dan kurangnya pengetahuan mengenai pasar baru yang berpotensial.

Talenta

Indonesia menghadapi permintaan yang sangat besar untuk talenta-talenta teknis, namun negara ini hanya mencetak 0,8 lulusan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) untuk setiap 1.000 anggota masyarakat, lebih rendah dibanding Tiongkok (3,4) dan India (2,0). Tanpa ketersediaan pekerja terampil yang lebih banyak, pertumbuhan perdagangan online di Indonesia, selain ekonomi digital secara luas, akan terhambat.

Laporan ini menjabarkan beberapa cara dimana rintangan-rintangan tersebut dapat dilalui, sekaligus menekankan bahwa perlunya kerja sama antara organisasi publik dan swasta. Contohnya, pemerintah bisa bekerja sama dengan sektor swasta untuk meluncurkan program peningkatan talenta yang menyeluruh, yang juga akan termasuk memperluas jumlah talenta dengan mengikutsertakan diaspora Indonesia, memangkas batasan bagi profesional asing dengan kemampuan khusus, mempertahankan lebih banyak perempuan di ketenagakerjaan, dan meningkatkan pendidikan teknis di bidang-bidang terkait dengan digital. Usaha rekrutmen talenta yang dilakukan negara-negara lain bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk dipikirkan dan diterapkan.

“Melihat potensi perdagangan online dalam mendorong perkembangan ekonomi Indonesia, penting sekali untuk kita semua mendukung pertumbuhannya” kata Wibowo. “Tapi satu pihak saja tidak bisa melakukannya sendiri. Sektor publik dan swasta harus berkolaborasi untuk memecahkan tantangan-tantangan yang ada.”

Tentang McKinsey & Company

McKinsey & Company adalah perusahaan konsultan manajemen global yang sangat berkomitmen untuk membantu institusi-institusi di sektor publik, swasta, dan sosial untuk mencapai sukses dalam jangka panjang. Selama lebih dari delapan dekade, tujuan utama kami adalah melayani sebagai penasihat eksternal terpercaya untuk para klien kami. Dengan konsultan yang berada di lebih dari 100 kantor di 60 negara, lintas industri dan fungsi, kami menawarkan keahlian tanpa tandingan untuk klien-klien di seluruh dunia. Kami bekerja dekat dengan segala tingkatan tim dari sebuah organisasi untuk membentuk strategi yang unggul, mendorong perubahan, membangun kemampuan, dan mendukung eksekusi.yang sukses.

Tentang McKinsey & Company di Indonesia

Kantor McKinsey & Company di Indonesia yang didirikan di Jakarta pada tahun 1995, adalah kantor pertama McKinsey di Asia Tenggara. Saat ini, kantor kami telah didukung oleh tim yang besar dan beragam, dan menjadi rumah bagi McKinsey Digital Lab, di mana para ahli terkemuka membantu klien membangun produk, pengalaman dan kapabilitas terdepan.

Kami bekerja sama dengan berbagai bisnis dan pemerintah guna mendorong pertumbuhan Indonesia. Klien kami beroperasi di semua sektor utama – termasuk jasa keuangan, material dasar, energi, pertambangan, dan telekomunikasi. Kami membantu klien kami meraih terobosan kinerja organisasi dan mencapai keunggulan dalam berbagai area fungsional – dari digital dan pemasaran hingga supply chain dan implementasi. Sementara itu, kami juga memupuk keahlian sumber daya manusia dan kepemimpinan sehingga klien kami meraih kesuksesan secara berkelanjutan.

Pekerjaan kami didukung oleh investasi signifikan pada ilmu pengetahuan, termasuk laporan MGI (McKinsey Global Institute) pada tahun 2012 berjudul, “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential.” McKinsey berkomitmen terhadap masa depan Indonesia. Pada tahun 2008, kami mendirikan Young Leaders for Indonesia (YLI), suatu program pelatihan kepemimpinan intensif untuk mahasiswa.