Masyarakat Desa Maritim Cemaga Binaan Bakamla RI Serius Pelajari Teknik Padamkan Api dan Penyelamatan di Laut

403

NATUNA, TELEGRAM – Keseriusan masyarakat Desa Maritim Cemaga sungguh di acungi jempol oleh para instruktur dari STIP Jakarta dan Personel Pemadam Kebakaran Kab. Natuna serta tim Direktorat Kerja Sama Bakamla RI, di objek wisata Pulau Akar, Kab. Natuna, Kepri, Kamis (30/8/2018).

Pasalnya sebagai peserta Diklat Pemberdayaan Masyarakat yang digelar atas kerja sama Bakamla RI dengan STIP Jakarta dan Pemkab Natuna, terlihat keinginan yang kuat untuk menguasai materi yang diberikan. Memasuki hari ketiga Diklat, peserta mendapatkan pelatihan teknik pemadaman kebakaran di kapal ataupun di darat, yang dilanjutkan dengan simulasi keselamatan diri di laut. Pelatihan hari terakhir ini dilaksanakan di Dermaga Pulau akar, tidak jauh dari Desa Maritim Cemaga.

Kedua materi tersebut dibawakan langsung oleh lima instruktur dari STIP Jakarta, yaitu Siswandi, Sumpeno, Ali Efendi, Ruhaeno dan Vandi Vanado serta didukung oleh Kadis Damkar Kab. Natuna, Syawal S.E., dengan mengirimkan satu unit damkar dan personelnya yang terdiri dari Kasi Pengendalian Bahaya Kebakaran Nurhakim, Operator Ade Rogo dan Teknisinya Afrizal.

Pertama-tama para peserta dikenalkan dengan alat pemadam api ringan (APAR), teknik atau cara menggunakannya hingga sinyal tangan dalam penggunaan nozzel, seperti sinyal membuka air, menambahkan dan mengurangi tekanan air. Peserta yang telah di kelompokkan sebelumnya langsung melakukan praktek pemadaman dengan api sungguhan. Tidak hanya itu Kepala Desa Cemaga pun turut membantu para warganya yang menjadi peserta diklat latihan kali ini.

Setelah bersentuhan dengan api, para peserta dengan penuh semangat melanjutkan dengan sesi simulasi keselamatan di laut. Tanpa ragu-ragu ratusan peserta terjun ke laut untuk menikmati pelatihan dengan suka cita. Simulasi ini merupakan penyelamatan diri saat terjadi kapal karam, dimana para peserta di instruksikan mengenakan life jacket yang telah di sediakan dan terjun ke air. Sebelum terjun, mereka di bekali teknik terjun yang tepat, yaitu satu tangan memegang life jacket, satu tangan menutup hidung, dan melangkah untuk terjun ke air, bukan melompat.

Setelah semua peserta di air, mereka di haruskan bergandengan tangan dan membuat lingkaran dengan tujuan tidak adanya yang hanyut dan tetap bersama selagi juga mengepakkan kaki di air agar tidak ada binatang buas laut mendekat. Khusus lansia, bayi atau perempuan, letak mereka harus di dalam lingkaran.

Aksi para peserta ini di saksikan langsung oleh warga sekitar pantai, Tim Medis STIP Jakarta yang berjaga, Tim Direktorat Kerjasama Bakamla RI dan Tim Kepegawaian Bakamla RI yang kebetulan akan melaksanakan kegiatan pembinaan Staf SPKKL Natuna yang juga turut hadir menyaksikan.[ham]