Demi Dunia yang Murah

419

Oleh: Arief B. Iskandar

Suatu hari. Setelah seharian berkeliling, Nasruddin Hoja pulang ke rumah. Saat istrinya membukakan pintu, ia segera masuk. Ia mendapati ada sepotong keju di piring di atas meja makan. Ia langsung menghampiri dan menyantap keju itu seraya berkata kepada istrinya, “Keju itu bagus untuk kesehatan perut.”

Istrinya diam saja, tak berkomentar.

Esoknya, setelah seharian pergi. Nasruddin kembali pulang ke rumah. Ia berharap ada lagi keju di atas meja makan. Namun, ia tak menemukannya. Ia lalu menemui istrinya dan bertanya, “Kok tidak ada keju lagi?”

“Memangnya kenapa?” jawab istrinya.

“Tidak apa-apa, sih. Lagipula keju tidak bagus untuk kesehatan gigi.”

“Jadi yang benar yang mana? Keju itu bagus untuk kesehatan perut atau tidak bagus untuk kesehatan gigi?” tanya istrinya.

“Tergantung,” jawab Nasruddin. “Kejunya ada atau tidak…?”

***

Pembaca yang budiman, penulis tidak bermaksud membuat lelucon dengan mencatut cerita fiktif di atas. Penulis hanya ingin mengajak pembaca merenung. Betapa bersilat lidah saat ini sudah dianggap hal biasa. Dibandingkan dengan silat-lidah Nasruddin di atas, apa yang kita saksikan hari ini parah. Apa yang diucapkan Nasruddin di atas tentu tidak berefek apa-apa selain menunjukkan kecerdikannya dalam menyikapi keadaan yang berbeda; antara ada dan tidak adanya keju.

Sebaliknya, hari ini kita menyaksikan banyak orang bersilat lidah demi tujuan yang buruk. Anehnya, hal demikian tidak dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Apalagi dianggap aib dan dosa.

Lihatlah para elit politik kita. Hari ini bicara A. Besok bicara B. Isuk dele sore tempe (pagi kedelai sore tempe). Demikian kata orang Jawa. Tidak aneh jika kemudian ada yang hari ini menjelek-jelekkan tokoh A. Esoknya sudah memuji-muji yang bersangkutan. Hari ini berseberangan. Esoknya sudah saling bergandengan tangan. Hari ini ngambek. Esoknya sudah saling berpelukan. Sebelumnya memusuhi ulama. Sekarang bergandengan tangan dengan ulama. Sebelumnya sangat anti dengan Aksi 212. Sekarang mengaku pernah ikut menggerakan aksi tersebut.

Siapapun bisa menilai. Semua itu bukan berangkat dari sebuah ketulusan, tetapi semata-mata karena kepentingan. Mereka hakikatnya sedang mempraktikkan adagium politik sekular yang kotor, ”Tidak ada kawan atau musuh abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi.”

Demi kepentingan kekuasaan, apapun dilakukan. Tak ada lagi rasa malu dan sungkan. Tak ada lagi rasa bersalah dan takut dosa. Urusan halal-haram tak lagi menjadi ukuran. Urusan syariah tak lagi dipandang relevan.

Demikianlah kalau manusia sudah diharu-biru hawa nafsu. Diperdaya harta. Diperbudak syahwat kekuasaan. Semua itu berpangkal pada kecintaan manusia terhadap dunia. Padahal andai saja setiap diri sejenak mau berhitung: Berapa sih harga dunia? Asal tahu saja. Meski seluruh isi dunia kita miliki, itu tak ada nilainya di sisi Allah SWT.

Sabda Nabi saw., “Seandainya dunia ini sebanding harganya dengan sayap seekor lalat saja, niscaya Allah SWT tidak akan membiarkan seorang kafir pun untuk meminum air dari dunia ini barang seteguk pun.” (HR at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Baginda Nabi saw. pun bersabda, ”Dunia ini terkutuk dan terkutuk pula semua yang ada di dalamnya, kecuali mereka yang senantiasa mengingat Allah SWT…” (Ibn Majah dan ad-Darimi).

Sayang, Allah SWT tampaknya sudah tidak lagi mereka ingat, kecuali di dalam shalat. Para elit politik, termasuk para tokoh Islam, seolah tidak pernah belajar meneladani generasi salafush-shalih dulu, yang tidak pernah silau oleh gemerlap dunia, harta dan kekuasaan. Jangankan bermimpi untuk menjadi penguasa atau bernafsu mengejar kekuasaan. Bahkan ditawari jabatan pun sering tak mereka hiraukan.

Imam Syafii, misalnya, ketika ditawari suatu jabatan, ia menolak. Demikian pula sebelumnya, Imam Abu Hanifah. Saat beliau ditawari untuk menjadi hakim pada zaman Bani Umayah yang terakhir, beliau pun enggan menerima. Pada masa pemerintahan Abu Ja’far al-Manshur, saat beliau diminta kembali untuk menjadi hakim, beliau tetap menolak.

Semua itu mereka lakukan bukan karena kekuasaan itu haram, tetapi semata-mata karena mereka khawatir akan Hari Pertanggungjawaban. Mereka sangat memahami sabda Nabi saw. saat Abu Dzar meminta amanah jabatan/kekuasaan. Saat itu Nabi saw. menolak sambil memberi nasihat:

«يَا أَبَا ذَرّ إِنَّك ضَعِيف، وَإِنَّهَا أَمَانَة، وَإِنَّهَا يَوْم الْقِيَامَة خِزْي وَنَدَامَة إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»
“Abu Dzar, sungguh engkau lemah, sementara jabatan/kekuasaan itu adalah amanah serta bisa menjadi kerugian dan penyesalan pada Hari Kiamat; kecuali bagi orang yang mengambil amanah kekuasaan itu dengan benar dan menunaikan kewajibannya di dalamnya.” (HR Muslim).

Karena tak pernah berambisi atas kekuasaan, tidak aneh jika generasi salafush-shalih seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii adalah generasi yang tak pernah plin-plan. Mereka selalu istiqamah. Apalagi dalam menyatakan kebenaran dan menjalankan dakwah. Sebab, mereka memang tak pernah terbebani oleh kekhawatiran akan risiko hilang kesempatan meraih jabatan atau kekuasaan.

Mereka tidak sebagaimana para tokoh saat ini. Banyak yang bertindak mencla-mencle karena khawatir tidak kebagian kue kekuasan. Lalu, agar tidak terkesan mencla-mencle, mereka sibuk berdalih dan bersilat lidah. Mereka tak risih kalaupun harus menjilat ludah yang sudah tertumpah. Ironisnya, semua itu mereka lakukan hanya demi meraih dunia yang sangat murah!

Wa ma tawfiqi illa bilLah. []