Hakim Tolak Kehadiran Saksi dari Sumbawa, Sidang Gugatan Perlawanan Ita Yulina di PN Surabaya Tidak Fair?

560

SURABAYA, TELEGRAM – Pengadilan Niaga Surabaya kembali menngelar sidang lanjutan gugatan perlawanan Ita Yulina terhadap kesalahan penyitaan yang dilakukan kurator berdasarkan putusan pailit No 35/pailit/2012/PN Niaga.Surabaya, Senin (23/7/2018).

Agenda sidang kali ini adalah pembacaan putusan provisi atas permohonan yang diajukan oleh pelawan melalui penasihat hukum (pengacara).

Dalam putusannya, majelis hakim yang diketuai oleh Hariyanto, menolak permohonan provisi yang diajukan oleh penasihat hukum pelawan, karena sudah masuk materi perkara. Tidak itu saja, mejelis hakim juga menolak kehadiran saksi-saksi yang dihadirkan pelawan untuk diperiksa, padahal saksi-saksi tersebut jauh-jauh datang dari Sumbawa.

Terkait hal itu, penasihat hukum terdakwa, Suryani.SH mengaku kecewa dengan putusan yang diambil majelis hakim yang menolak putusan provisi dan menolak kehadiran saksi kali ini, dengan akan melanjutkan persidangan sepekan mendatang dengan alasan sudah jam 12 siang, waktunya makan siang.

“Jelas itu mengecewakan kami, hal ini bertentangan dengan sistem peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan. Apalagi hakim hanya mendengar adanya penyampaian kalau pelawan tidak sanggup mengadirkan saksi-saksi kembali. Saksi-saksi itu datang dari Sumbawa atas kerelaan sendiri,” kata Suryani, ketika ditemui diluar ruang persidangan. Senin (23/7/2018).

Kepada awak media, Suryani juga bertanya-tanya kenapa permohonan tentang penggantian majelis hakim yang pernah dia ajukan juga ditolak. Sebab, majelis hakim yang menyidangkan perkara ini, adalah hakim yang sama yang pernah membuat penetapan untuk menyita dan menyegel usahanya milik Ita Yuliana.

“Kenapa permohonan kami untuk mengganti majelis hakim juga ditolak. Ada apa,?” ucapnya.

Suryani pun mencurigai ada hal-hal yang tidak netral disini.

“Kalau misalnya, hakim sudah membuat penetapan menyegel tokonya Ita Yuliana, apa mungkin dia akan membuat keputusan yang berbalik untuk membuka lagi tokonya,?” tanya Suryani.

Walaupun ditolak, Suryani dari kantor pengacara Johnny Situanda dan rekan, Jakarta ini tetap menghormati putusan tersebut karena sudah menjadi wewenang dari Majelis Hakim.

Perlu diketahui, pasca putusan palit No 35/pailit/2012/PN.Niaga Surabaya, pada 23 Nopember 2017 kurator Najib Gysmar dan kurator Mohamad Achin bersama sekelompok orang mendatangi toko Mitra Teknik milik Ita Yuliana dan melakukan pengrusakan dan penyegelan.

Najib dkk mengambil barang-barang dari toko bahan bangunan itu yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaanya dan tidak ada tanggung jawabnya.

Kurator Najib Gysmar juga diduga melanggar kewenangannya yakni melakukan penyitaan terhadap harta benda yang tidak tercantun dalam surat pemberitahuan pelaksanaan penyegelan dari Pengadilan Niaga Surabaya.

Harta benda itu bukan agunan kredit dan merupakan harta pribadi Ita Yuliana dan bukan merupakan debitur pailit.

Harta benda Ita Yuliana yang ikut disita yakni, barang antik berupa permata, patung, gading dan lukisan. Stok barang dagangan di toko Mitra Teknik serta tiga bidang tanah di desa Kerato dengan SHM No 929/Kerato, SHM No 930/Kerato dan SHM 931/Kerato.

Pada 11 Nopember 2017, aksi perusakan, perampasan dan perbuatan pidana kurator Najib ini dilaporkan ke Bareskrim Polri. Pada 20 Desember 2017, Najib juga dilaporkan ke Komnas HAM. Pada 22 Desember 2017 Najib dilaporkan ke Ikatan Kurator Indonesia terkait adanya pelanggaran kode Etik. [ham/beritalima]