Buah Cinta kepada Nabi Muhammad SAW

594

Ada seorang pemuda yang pekerjaanya mengangkut barang di pasar. Setiap hari dia menyisihkan sebagian upahnya untuk ditabung. Dan tabungan tersebut dibuka setahun sekali, bukan di malam lebaran, melainkan di malam 1 Robiul Awal.
Uang tersebut sebagian dipakai untuk membeli baju baru, peci baru, minyak wangi baru,dll, sebagian lagi dipakai untuk memesan makanan yang enak di catering untuk porsi 50 orang di tanggal 12 Robiul Awal.

Saat memasuki bulan Robiul Awal, wajahnya kelihatan bahagia sekali. Teman-temannya heran dan bertanya mengapa kelihatan bahagia sekali padahal di hari lahirnya sendiri dia tidak sebahagia ini.

Maka dia menjawab, “Kelahiran saya tidaklah penting, tapi kelahiran Nabi Muhammad adalah kelahiran hidayah bagi kita semua, kelahiran jalan surga bagi kita.
Jika bukan karena kelahiran Beliau saw, kita tidak akan mengerti jalan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.”

Karena itu mulai awal bulan Maulid, pemuda tersebut terlihat sangat bahagia sekali.

Hingga malam 12 Robiul Awal tiba, dia sholat Isya dan langsung tidur. Kemudian jam 1 malam, dia bangun dan bersiap-siap dengan memakai baju dan perlengkapan yang baru dia beli. Setelah itu, dia membaca sholawat beribu-ribu sholawat sampai menjelang subuh.

Di saat detik-detik kelahiran Rosulullah saw, dia berdiri, membaca mahalul qiyam sendirian dengan berlinang air mata. Menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad saw dengan penuh cinta dan kerinduan.

Saat tiba adzan subuh, pemuda tersebut sholat subuh di masjid. Kemudian dia mengumpulkan teman-temannya untuk membaca maulid dan sedikit menceritakan yang ia tahu tentang Rosulullah saw. Ia juga meminta Ustadz untuk menceritakan tentang Nabi Muhammad saw. Setelah acara tersebut selesai, mereka semua makan bersama dengan jamuan yang disediakan oleh pemuda tersebut.

Keesokan harinya dia mulai menabung lagi, begitu seterusnya sampai wafatnya.

Pemuda tersebut wafat sebelum tua dan belum sempat menikah.

Beberapa hari sesudah kewafatannya, seorang temannya memimpikan dia berada dalam kenikmatan yang luar biasa.

Dia bertanya,” Atas amal ibadah apa, kau mendapatkan kenikmatan seperti ini?”
“Saya tidak tau”,jawabnya.

Kemudian dia bercerita, “Ketika masuk alam kubur, saya dibangkitkan dan saya sadar bahwa saya telah mati. Saya juga ingat bahwa sebentar lagi akan didatangi malaikat Munkar dan Nakir. Saya ketakutan dan gemetar. Lalu dari ujung saya melihat ada cahaya yang semakin mendekat. Saya pikir itu adalah malaikat Munkar dan Nakir. Saya tambah ketakutan. Tapi setelah dekat dan saya bisa melihat wajahnya, maka hilanglah rasa takut tersebut.”

Saya berkata kepada orang tersebut, “kalau saya tau yang datang setampan dirimu, tentu saya tidak akan ketakutan.Saya kira malaikat Munkar Nakir itu sangat menakutkan.”

Maka Orang tersebut berkata, “Saya bukanlah Munkar Nakir, tapi saya adalah orang yang kau rayakan hari kelahirannya di bulan Robiul Awal. Saya yang senantiasa kau rindukan dalam hari-harimu. Saya adalah yang senantiasa kau bacakan sholawat dan salam dalam hari-harimu. Semua sholawatan yang kau lakukan itu, diajukan kepadaku. Sampai ketika saya mendengar kabar kewafatanmu, maka saya meminta izin kepada Allah untuk memberi syafaat kepadamu di dalam kuburmu, sebelum saya memberikan syafaat kepadamu di akhirat nanti. Sebentar lagi Munkar Nakir akan datang kepadamu, tenangkan hatimu, saya akan menemanimu”.[Sumber : Kitab I’natut Tholibin Syarah Fathul Mu’in]