Mengapa Menolak Istilah Kafir?

101

Oleh: Ali Akbar bin Aqil

Salah satu yang menolak kehadiran Ustad Abdul Somad adalah Pariyadi alias Gus Yadi, pemimpin Pondok Pesantren Soko Tunggal Abdurrahman Wahid 3 Bali. Menurutnya, UAS ditolak masuk Bali karena penceramah asal Riau itu selalu menyebut kafir kepada yang tidak seiman.

Kata Kafir bukan kata asing bagi umat Islam. Kita sudah sangat akrab dengan kata yang satu ini. Hampir setiap membaca Al-Quran kata ini terucap, sebab memang tercantum di dalamnya.

Ayat-ayat Suci Al-Quran menyebut kata kafir dalam berbagai derivasinya. Oleh sebab itu, tugas dan kewajiban umat Islam untuk meyakini kitab sucinya. Sikap demikian juga dijamin dalam konstitusi di Indonesia, untuk menjalankan agama sesuai keyakinannya.

Secara bahasa, Kafir artinya orang yang mengingkari sesuatu, atau orang yang menolak sesuatu. Kata ini bisa digunakan sebagai ungkapan orang yang melupakan nikmat Allah ta’ala, menjadi lawan kata Asy-Syaakir (orang yang bersyukur).

Dari sudut pandang Syariat Islam, kafir adalah sebuah istilah untuk menunjukkan sikap penentangan terhadap ajaran tauhid, kenabian, dan hal-hal yang terkait dengan Hari Akhir.

Jika seseorang, apapun agama dan keyakinaannya, bertentangan dengan seruan tauhid (mengesakan Allah ta’ala), mengingkari risalah Nabi Muhammad SAW dalam hal sekecil apapun itu, atau tidak percaya dengan Hari Akhir, maka ia termasuk Kafir.

Dari sini, kata kafir mencakup beberapa kelompok dalam tubuh umat manusia:

1. Mulhid. Yakni seseorang yang tidak mengakui adanya Tuhan (Atheis)

2. Musyrik. Yakni seseorang yang menyekutukan Allah ta’ala dalam ibadah yang dikerjakannya. Ia mengakui adanya Allah ta’ala namun ia menduakanNya.

3. Watsaniy. Istilah ini diambil dari kata watsan (berhala). Watsani artinya penyembah berhala. Maksudnya adalah seseorang yang menyembah kepada selain Allah ta’ala.

4. Seseorang yang mengingkari kenabian atau risalah Nabi Muhammad SAW.

5. Seseorang yang tidak mengakui kewajiban salah satu syariat Islam seperti salat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

Dari sini kita bisa sedikit mengambil kesimpulan, ketika seorang Ulama menyatakan bahwa di luar Islam adalah Kafir, ia tidak sedang menghina pribadinya, tapi perbuatannya yang memyembah bukan kepada Allah ta’ala.

Kata kafir yang dilontarkan bukan untuk memecah belah persatuan bangsa dan NKRI, tapi sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menjelaskan kepada umat tentang bagaimana Allah ta’ala memberikan “stigma” terhadap mereka yang berada di luar Islam, sebagaimana mereka pun memiliki istilah untuk golongan di luar agama mereka.

Oleh sebab itu, tidak yang salah dengan apa yang disampaikan oleh UAS, yang dijadikan bahan penolakan oleh Gus Yadi terhadap kedatangannya. Justru Gus Yadi perlu membuka kembali Al-Quran agar ia tahu siapa yang dimaksudkan oleh Allah ta’ala sebagai orang kafir itu.[***]

Wallaahu a’lam bis showaab