Oleh: Ferdinand Hutahaean
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia

Persaingan memperebutkan posisi jabatan Direktur Pertamina tampaknya semakin memanas. Bukan Pilkada Jakarta saja yang memanas untuk memperebutkan kursi Gubernur 5 tahun kedepan. Jabatan Dirut Pertamina pasca dicopotnya Dwi Sutjipto sebagai Dirut menyisakan perebutan kursi kosong yang saat ini diawaki oleh PLT.

Pertamina adalah urat nadi kehidupan bangsa dan negara. Bagi saya, Pertamina itu jauh lebih vital kebutuhannya dari Tentara maupun Polisi. Ini bagi saya, mungkin bagi orang lain tidak demikian. Mengapa saya sebut demikian? Coba bayangkan apa yang terjadi andaikan seluruh pekerja Pertamina Mogok Kerja 3 hari saja. Seluruh distribusi BBM macet dan mengakibatkan antrian panjang diseluruh SPBU. Mengakibatkan mogok massal kendaraan karena tidak ada Bahan Bakar. Bisa bayangkan yang terjadi selanjutnya? Pesawat tidak bisa terbang, angkutan darat mogok, kapal laut juga tidak beroperasi karena tidak ada bahan bakar. Maka dapat dipastikan kekacauan nasional akan terjadi. Dan dampaknya rusuh dimana-mana serta akan berakibat fatal kepada posisi jabatan Presiden. Maka itulah saya menyatakan bahwa Pertamina adalah urat nadi bangsa yang paling vital menjaga kondusifitas bangsa.

Dengan demikian, masih patutkah jika ada pihak-pihak yang berspekulasi ingin menguasai kursi Dirut Pertamina bahkan dengan menghalalkan segala cara termasuk memberikan masukan salah dan terindikasi bohong kepada Presiden? *Kami meminta agar tidak ada pihak manapun yang mencoba bermain-main dan berspekulasi terhadap posisi jabatan Dirut Pertamina. Yang kedua, jabatan Dirut Pertamina tidak layak dijadikan sebagai kursi uji coba, atau kursi coba-coba menjadi Dirut BUMN, karena dampaknya akan sangat dirasakan oleh bangsa. Orang yang sukses memimpin BUMN lain belum tentu mampu memimpin Pertamina. Karena memimpin Pertamina bukan sekedar kemampuan managerial, tapi harus mengerti dan mengetahui seluk beluk Pertamina, mampu memimpin tim kerja, dikenal dan mengenal pekerja Pertamina, karena memimpin Pertamina harus mengandalkan sentuhan hati pimpinan dengan hati pekerja, mengenal secara face to face, karena itu jauh lebih penting daripada sekedar kemampuan managerial. Kegagalan kepemimpinan Dwi Sutjipto telah membuktikan bahwa Pertamina tidak boleh asal dipimpin orang yang merasa mampu tapi harus yang mampu merasa.

Seperti apa sosok yang layak memimpin Pertamina? *Kami sarankan kepada Menteri BUMN dan kepada Yang Mulia Presiden agar tidak ikut-ikutan berspekulasi dengan mengulang kesalahan masa lalu menempatkan orang dari luar Pertamina menjadi Dirut. Untuk jabatan direktur yang lain masih bisa diterima karena dibutuhkan keahlian spesifik dan managerial, berbeda dengan posisi Dirut yang harus mengendalikan seluruh direksi, artinya Dirut harus punya kemampuan lengkap terhadap seluruh aspek direktorat Pertamina. Mengerti management, memahami keuangan, mengerti bisnis hulu dan hilir minyak, paham tentang gas dan energi baru, serta memguasai psikologis pekerja Pertamina.* Tanpa modal itu, sebaiknya jangan ada yang berani-beranian memimpin Pertamina.

Atas kriteria tersebut, maka yang layak memimpin Pertamina adalah sosok yang tidak asing bagi Pertamina, dan dari internal Pertamina atau yang pernah ada didalam Pertamina. Kesuksesan Pertamina hanya bisa terwujud jika dipimpin oleh orang yang merasa memiliki Pertamina bukan yang merasa raja atas sebuah Badan Usaha Milik Negara.

Energy Watch Indonesia juga meminta kepada semua pihak, termasuk menteri-menteri teknis seperti kementerian ESDM agar tidak terlalu banyak bermanuver terkait Dirut baru Pertamina, karena Kementerian ESDM adalah regulator. Kami mengamati manuver Wamen ESDM Archandra Tahar sudah over dosis sementara kemelut dengan Freeport semakin meruncing. Lebih baik kementerian ESDM fokus pada masalah Freeport daripada ikut cawe-cawe dalam menentukan Dirut Pertamina karena itu merupakan domain dan tupoksi Menteri BUMN.

Siapa sosok yang layak jadi Dirut Pertamina? Biarlah Menteri BUMN dan Presiden yang memutuskan tanpa bisikan-bisikan menyesatkan dari pihak-pihak yang punya agenda dan kepentingan dalam jabatan Dirut Pertamina. Presiden tentu paham menilai siapa yang layak.