Ferdinand Hutahaean: Jakarta dalam Rekayasa Opini Menuju Kecurangan

188
Ferdinand Hutahaean

Oleh: Ferdinand Hutahaean*

Jakarta tampaknya menjadi pertaruhan hidup matinya rejim berkuasa saat ini. Jakarta sepertinya menjadi kunci akhir kelangsungan berkuasanya rejim saat ini. Tidak dapat dinafikan bagaimana posisi dan sikap rejim berkuasa dalam Pilkada Jakarta saat ini adalah memang terindikasi berpihak kepada salah satu pasangan calon yaitu pasangan petahana.

Pilkada Jakarta saat ini patut diduga akan berlangsung curang karena dicurangi. Pasangan Ahok Djarot yang terlihat memang sudah tidak disukai oleh publik masyarakat Jakarta dan memang tampaknya akan kalah dalam Pilkada ini memaksa oknum penguasa untuk melakukan segala hal untuk membalikkan situasi. Saya melihat dukungan penguasa itu memang bukan sikap resmi pemerintah, akan tetapi sikap oknum-oknum yang kebetulan sedang berkuasa. Mereka ini akan menggunakan kekuasaan ditangannya untuk memenangkan calon yang didukungnya bahkan hingga menghianati demokrasi serta memanipulasi suara rakyat.

Memasuki fase kritis manakala pasangan Nomor 1 Agus Silvy terus memimpin memenangkan hati rakyat dan lembaga-lembaga survay secara mutlak menempatkan Agus Silvy pada urutan pertama yang akan memenangkan Pilkada, muncullah lembaga- lembaga survay yang secara berani merilis hasil survay yang berbeda dengan mayoritas lembaga survay lain yang kredibilitasnya lebih teruji. Ini aneh dan janggal, tanpa ada sesuatu yang signifikan merubah opini publik, tapi hasil survay bisa berbeda.

Munculnya sedikit lembaga survay yang merilis hasil survaynya dan menempatkan Pasangan Ahok Djarot sebagai pemenang Pilkada adalah patut dicurigai sebagai bagian dari upaya untuk membangun opini ditengah publik dan kemudian menjadi justifikasi pembenaran bila kelak suara rakyat dimanipulasi memenangkan yang kalah. Memenangkan yang kalah itu contohnya adalah, misalkan pasangan Ahok Djarot ketika ternyata kalah secara faktual dilapangan kemudian dengan kecurangan berbalik menjadi pemenang. Dan bermodal hasil survay yang kredibilitasnya diragukan itu, pelaku kecurangan akan terus bertahan dengan kebohongan dan menggunakan hasil survay yang direkayasa itu sebagai pembenaran. Ini adalah kejahatan demokrasi yang luar biasa bila terjadi. Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, maka bila penguasa memanipulasi suara rakyat maka sama saja penguasa memanipulasi suara Tuhan.

Nampaknya memang upaya kecurangan itu mulai dibangun dengan seksama. Kemarin dan hingga hari ini beredar di WAG group sebuah capture pembicaraan WA seorang pemilik lembaga survay yang entah benar atau tidak, percakapan itu bahkan menyebut nama seorang pejabat penguasa didalamnya. Percakapan WA itu jelas menunjukkan adanya upaya rekayasa hasil survay pilkada bahkan memaksa supaya pasangan calon No 2 dibuat hingga 40% lebih. Sekali lagi, apakah percakapan itu benar atau tidak, kita tidak tahu. Terlepas benar atau tidak, caputure itu sangat patut dijadikan bukti bahwa memang saat ini Jakarta sedang berada dalam rekayasa opini menuju kecurangan. Mengapa mereka perlu curang? Karena memang mereka para pelaku itu sudah menyadari bahwa pasangan calon yang didukungnya sudah kalah.

Kami mengingatkan pertama kepada rejim berkuasa agar berhenti melakukan segala upaya yang merusak demokrasi dan memanipulasi suara rakyat. Berhenti menggunakan kekuasaan untuk menantang membalikkan Suara Tuhan karena Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. Jangan terinspirasi Ahok dalam pernyataannya di sebuah acara stasiun televisi yang akan melawan Tuhan kalau Tuhan salah, padahal Tuhan tidak pernah salah.

Kedua, kami juga mengingatkan kepada publik rakyat Jakarta, agar mewaspadai segala bentuk pola kecurangan dilapangan, jangan sampai keinginan publik rakyat Jakarta untuk mendapatkan Gubernur baru dimaipulasi karena kecurangan. Publik harus melawan segala bentuk kecurangan demi tegaknya nilai demokrasi.[***]

*Rumah Amanat Rakyat