In Memoriam Korban Meninggal Aksi Damai 4 November: Pak Oye Yang Saya Kenal

316

Matahari belum begitu tinggi, ketika saya menyusuri jalan sempit paving blok perumahan Binong Permai blok F14 No 24. 51 meter sebelum tiba di Mushola Bina Ihsani, lantunan kalimat Thoyyibah mengumandang. Diselingi suara gemuruh Takbir yg bergema beberapa kali. Saya bergegas  berwudhu. Jenazah M. Syahrie bin Umar sebentar lagi disholatkan.

“Saudara2 sekalian, hari ini kita akan menyolatkan jenazah seorang Mujahid. Kita yakin, almarhum ini mati syahid…” suara orang yg mewakili keluarga almarhum ini tercekat. Terdengar ia sesegukan. Kata2nya sejenak terhenti. Ia tak sanggup meneruskan. Suasana begitu haru menyelimuti hati para jama’ah yg memenuhi hingga shaf belakang Musholla Bina Ihsani.

“Saudara2 kita menjadi saksi, orang yang ada di hadapan kita ini mati Syahid. Karena ia mati dalam membela Agama, membela Al Qur’an…! Lanjut si pembuka prosesi sholat jenazah itu lantang.

“Allahu Akbar…, Allahu Akbar….!” Berkali-kali Takbir berkumandung menyambut kata-kata si pembawa acara.

Ketika sholat dimulai, yang diimami uUstadz Sulaiman, isak tangis para jama’ah pun pecah… Mereka haru mengiringi kepergian Mujahid gagah tersebut.

Saya mengenal Asy Syahid. Sederhana, periang, ramah dan amat bersemangat. Di Musholla Bina Ihsani ia dikenal sebagai dedengkotnya. Lantaran amat rajin membina kaum ibu dan remaja. Almarhum yg sehari2 disapa Pak Oye itu, amat bersemangat memfasilitasi setiap kegiatan  dakwah, para kader dakwah.

“Ibu2 jangan lupa ya, dukung pak Sultoni,” ujarnya bersemangat di hadapan ibu2 yg berhasil dikumpulkannya di musholla Bina Ihsani, ketika saya berkampanye.

51 meter setelah saya beranjak dari makamnya, saya msh saja tak sanggup menahan sesegukan isak tangis saya. Haru, bangga dan bercampur malu. Saya yang lebih muda dari almarhum, kenapa tak berani berada di barisan depan saat Aksi Bela Islam 4 November 2016? Saya ini kan lebih muda? Tak mengidap penyakit seperti beliau? Lebih segar, lebih sehat, lebih lincah? Tapi kenapa almarhum yang jauh lebih tua, berpenyakit asma, lebih sepuh, justru lebih gagah semangat jihadnya membela kemuliaan Al Qur’an?
Saya tercenung. Air mata saya berjatuhan, tak sanggup saya tahan.

Tahun 51 adalah tahun kelahiran almarhum.

Dan dia menghadap Robb yang dikasihinya pada 4-11-2016. Jika angka2 itu kita jumlah, juga berjumlah 51 (4+11+20+16).

Ayat 51 surat Al Maidah, yg juga membakar semangat jihad beliau, hingga beliau berangkat menuju Jakarta. Berdiri gagah di shaf jihad terdepan, hingga syahid menjemputnya.

SELAMAT JALAN WAHAI MUJAHIDKU NAN PERKASA..!

ENGKAU MEMANG CUMA SIMPATISAN DAKWAH, TAPI SEMANGAT JIHADMU SUNGGUH AMAT MILITAN..!

Ust Sultoni
Anggota DPR FPKS 2009